Zaman Kala Bendu

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Bendu makna aslinya dari bahasa Sansekerta ; artinya adalah hukuman, atau kutukan. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bendu diartikan sebagai kawan, sahabat, atu sanak saudara. Beda lagi dalam Bahasa Sunda. Dalam Bahasa Sunda, bendu artinya  marah dalam tataran bahasa halus. Bahasa Bali juga mendefinisikan Bendu adalah marah besar.

Untuk tulisan ini definisi operasional yang dipakai adalah bendu dalam konsep Sansekerta yang menjadi induk Bahasa Jawa; yaitu hukuman. Makna lebih luasnya adalah hukuman yang ditimpakan oleh Tuhan kepada makluk-Nya yang telah melanggar wewaler (peraturan). Pada masyarakat Jawa, kata bendu justru dipopulerkan dengan “Jaman Kolo Bendu” (sering juga ditulis kala bendu atau kalabendu)  yang oleh Pujangga Ronggowarsito ditulis dalam sebuah buku atau kitab berjudul Jongko Joyoboyo (sering juga ditulis Jangka Jayabaya).

Isi singkat Jaman Kolo Bendu yang di tulis itu terjemahan bebasnya sebagai berikut: Zaman kalabendu iku wiwit yen, (jaman kalabendu itu dimulai jika) 1. Wis ana kreta mlaku tanpa jaran (Sudah ada kendaraan berjalan tanpa kuda) 2. Tanah Jawa kalungan wesi (Pulau jawa berkalungan besi) 3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang (Kapal berjalan di atas awan) 4. Kali ilang kedunge (sungai hilang batasnya) 5. Pasar ilang kumandange (pasar hilang kumandangnya) 6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman (orang menemui bolak balik pada jaman) 7. Jaran doyan sambel (kuda suka sambal) 8. Wong wadon menganggo lanang (wanita berpakaian pria).

Betapa “lantip” (cerdas) pemikiran Pujangga besar itu; sampai memberi peringatan dini pada generasi berikut. Meskipun peringatan itu mungkin tidak tepat betul, akan tetapi paling tidak mampu memberikan peringatan dini kepada kita semua untuk selalu waspada terhadap kehidupan ini jika menemukan tanda tanda alam yang terjadi di sekitar kita. Karena setelah itu akan terjadi zaman edan; yang oleh Sang Pujangga diberi pertanda sebagai berikut:
Zamane zaman edan (jamannya jaman gila) 1. Wong wadon nunggang jaran (perempuan naik kuda) 2. Wong lanang lungguh plengki (orang lelaki duduk di pemerintahan) 3. Wong bener tenger-tenger (orang benar kebingungan) 4. Wong salah bungah-bungah (orang salah bersenang-senang) 5. Wong apik ditampik-tampik (orang baik terlunta lunta) 6. Wong bejat munggah pangkat (orang bejat naik pangkat) 7. Akeh dandhang diunekake kuntul (banyak dandhang dikatakan kuntul).

Kemudian: 8. Wong salah dianggap bener (orang salah dianggap benar) 9. Wong lugu kebelenggu (orang lugu terbelenggu) 10. Wong mulya dikunjara (orang mulia dipenjara) 11. Sing culika mulya, sing jujur kojur (yang mencuri mulia, yang jujur hancur) 12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang (para penjual banyak yang terhambat) 13. Wong main akeh sing ndadi (orang berjudi semakin menjadi) 14. Linak lijo linggo lico, lali anak lali bojo, lali tonggo lali konco ( lupa anak lupa istri lupa tetangga lupa teman) 15. Duwit lan kringet mug dadi wolak-walik kertu (uang dan keringat hanya menjadi bolak balik kartu) 16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak (kartu besar dibuka, ketawa cekakakan) 17. Ning mulih main kantonge kempes (kalau pulang judi kantongnya kempes) 18. Krungu bojo lan anak nangis ora di rewes (mendengar istri dan anak menangis tidak di pedulikan).

Terlepas kebenaran dari peringatan dini itu; sebagai manusia yang berpegang pada Agama Allah; maka wajib atas kita sebagai manusia untuk selalu memahami posisi diri. Jangan sampai amanah yang dipikulkan kepada kita justru menjadi jalan menuju perbuatan dholim kepada sesama, seperti yang sudah ditengarai oleh peringatan tadi.
Mengingatkan sesama hamba Allah untuk menuju ke jalan yang benar adalah kuwajiban; namun tentunya dengan kalimat atau kata yang dibenarkan secara sar’i.

Menepuk dada paling berjasa dan mencari pembenaran dengan menyalahkan masa lalu atau kesalahan orang lain; adalah perilaku tidak terpuji; apalagi itu dilakukan oleh pemimpin. Perlu dipahami bahwa jika masih ada teman, atau orang lain yang masih peduli dengan kita untuk menegur atau mengingatkan dengan caranya; patutlah kita ucapkan terimakasih. Bisa dibayangkan jika tidak ada lagi yang menegur atau memberi tahu tentang kekurangan atau kelemahan kita; ini sebenarnya menunjukkan ketidaksukaan tingkat tinggi kepada kita.

Justru jika ada orang yang selalu memberikan pujian kepada apapun yang kita tampilkan; harusnya kita menyadari dan mempertanyakan apakah pujian itu tulus; adakah telunjuk lurus kelingking berkait. Karena apapun pekerjaan kita jika kita ingin meminta selalu di puji oleh orang lain; maka sebenarnya kita sudah berlaku dholim terhadap diri sendiri.

Bahasa rasa seperti itu hanya mampu ditangkap oleh mereka yang memiliki kejernihan berfikir dan berpikiran positif kepada apapun yang ada dihadapannya; tanpa harus melihat sisi negative sedikitpun. Karena dirinya sadar betul ditengah keunggulan itu pasti ada kelemahan, ditengah kelemahan itu juga ada keunggulan. Karena hidup itu adalah rangkaian cerita yang sudah ada skenarionya sejak manusia lahir sampai meninggal; yang disusun oleh Yang Maha Hidup dan Menghidupi.***

 

 

 

  • Bagikan