Beranda Kolom Sepak Pojok Zohri dan Si Miskin

Zohri dan Si Miskin

290
BERBAGI

Oleh: Alois Wisnuhardana

Diukur dengan alat atau metode apapun, Lalu Muhammad Zohri adalah penduduk berkategori miskin. Jika menggunakan kriteria Badan Pusat Statistik, rumah tinggal Zohri yang sudah beredar luas di publik itu jelas masuk ke dalamnya kategori rumah tinggal penduduk miskin.

Lantai tempat tinggalnya terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan. Dindingnya dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah. BPS juga memasukkan kriteria lain seperti tidak memiliki fasilitas buang air besar, sumber air minum berasal dari mata air yang tak terlindungi, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar atau arang.

Apakah Zohri hanya mengonsumsi daging/susu/ayam sekali seminggu, apakah ia hanya sanggup membeli satu stel pakaian baru dalam setahun, apakah ia hanya sanggup makan satu/dua kali dalam sehari, tidak ada cerita yang rinci tentangnya. Tapi Zohri tak mampu beli sepatu untuk dia berlatih lari sehari-hari, sehingga lebih sering ia berlatih telanjang kaki di tepian pantai dekat rumahnya.

Ada 14 kriteria yang disusun untuk mengategorikan penduduk miskin ini. Semakin banyak kriteria itu terpenuhi, posisi mereka dalam lapis-lapis tingkat kesejahteraan penduduk semakin berada di kerak atau dasar.

Zohri adalah yatim piatu sehingga kriteria BPS bahwa orang miskin penghasilan kepala keluarganya sebesar 600 ribu sebulan jelas tidak terpenuhi. Zohri bahkan tak punya kepala keluarga.

Jika merujuk pada tempat tinggal Zohri di NTB (bagian dari Nusa Tenggara), di wilayah kepulauan ini, tingkat kemiskinannya termasuk paling tinggi, dan hanya lebih rendah dari Kepulauan Maluku dan Papua. Begitu kata BPS.

Jika merujuk pada tingkat kemiskinan akutnya, upaya untuk mengurangi penduduk miskin yang berada di kerak kemiskinan ini juga paling sulit dilakukan. Berbagai intervensi dan program harus dilakukan, supaya mereka bisa keluar dari jerat kemiskinan. Sementara tingkat kerentanannya juga tinggi. Gejolak harga satu komoditas tertentu, atau kejadian bencana alam dan sosial sedikit saja, bisa melempar kelompok masyarakat yang sudah keluar dari kategori orang miskin kembali terperosok ke lembah kemiskinan yang dalam.

Apakah intervensi dan program pengentasan yang dilakukan oleh Pemerintah terhadap orang-orang bernasib seperti Zohri ini sudah berjalan dan berhasil?

Sudah!

Apa indikatornya? Mari kita lihat data statistik terakhir yang dikeluarkan BPS. Berdasarkan data yang dikumpulkan hingga Maret 2018 dan dirilis 16 Juli lalu, angka kemiskinan di seluruh Indonesia menurun dari 10,64% pada Maret 2017 ke 9,82% pada Maret 2018.

Sepanjang sejarah republik ini sejak berdiri, pada tahun inilah untuk pertama kalinya persentase kemiskinan di Indonesia mencapai angka di bawah dua digit.

Jika persentase sudah menurun secara signifikan, mengapa masih banyak kita temukan orang-orang miskin, orang-orang seperti Zohri yang kondisi rumahnya memprihatinkan?

Meski persentase penduduk miskin sudah di bawah 10%, secara total, angkanya mencapai 25,95 juta jiwa. Angka ini kurang lebih lima atau enam kali lipat seluruh jumlah penduduk Singapura, atau lebih banyak dari seluruh penduduk Australia.

Zohri, diperkirakan akan mampu keluar dari zona miskin berkat prestasi yang dicapainya sebagai juara dunia junior lari paling bergengsi, 100 meter putra. Ia keluar dari jerat kemiskinan berkat kegigihannya. Ia terbebas dari kerak kemiskinan karena ketekunannya berlatih. Ia terbebas karena mampu mengenali potensinya dan mengarahkannya secara tepat, dan didukung oleh lingkungan dan orang-orang yang juga tepat.

Tidak banyak orang yang mampu keluar dari zona ini dengan usahanya sendiri. Zohri adalah satu dari sejuta, atau bahkan puluhan juta yang mampu melakukannya. Tapi Zohri juga memberikan pelajaran berharga, tiada yang tidak mungkin buat mereka yang mau berusaha dan berjuang sepenuh tenaga.

Untuk yang tidak mungkin ini, Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah membangun sistem, mencari jalan keluar, membuat aturan, dan mengeluarkan kebijakan, sehingga angka-angka kemiskinan ini dapat terus menurun baik secara persentase maupun secara jumlah absolut.

Ada Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Program Keluarga Harapan. Melalui cara-cara itulah Pemerintah hendak memastikan bahwa mereka tidak sekadar peduli tapi juga BEKERJA. Mereka tidak sekadar prihatin tapi BERKOMITMEN.