Ahmad Yulden Erwin, Menikmati Keras – Lembut Hati Guru Shaolin

Ahmad Yulden Erwin/Ist
Bagikan/Suka/Tweet:

Nezar Patria

Menelusuri jalan kampung yang tembus ke arah tol Trans Sumatera menuju dermaga Bakaheuni, Lampung, saya memikirkan panggilan telepon yang tak terjawab kepada seorang sahabat, Ahad akhir Januari lalu. Dermaga tinggal beberapa puluh kilometer lagi dan saya berharap segera ada panggilan balik darinya.

BACA: Ahmad Yulden Erwin, Hidup – Mati untuk Puisi

Langit mendung. Lampung tampak berubah dibanding saat saya berkunjung tujuh tahun silam. Saya mengagumi ruas jalan tol Trans Sumatera yang mulus dan membelah bukit-bukit kecil dengan kehijauan dan pohon yang lampai di sepanjang jalan, rumah-rumah bersahaja beratap seng dan sejumlah cerobong pabrik yang mengepulkan asap kelabu. Lampung yang dinamis di tepi Selat Sunda adalah juga tempat yang subur di peta sastra Indonesia modern. Ini bukan hanya tanah para penyair tapi juga para pekerja teater yang hebat.

Saya mengontak dia lagi via Facebook Messenger. Saya tahu ini hari Ahad, biasanya dia sibuk di depan laptop dan mungkin saja sedang aktif di Messenger itu. Seorang penyair yang antusias mengajarkan cara menulis yang baik dan lurus seperti dirinya tak kenal hari libur. Panggilan melalui Messenger itu kembali tak terjawab. Perjalanan singkat ini memang tak direncanakan khusus dan saya memang tak memberitahu dia lebih awal. Tapi entah mengapa ada niat kuat untuk menemuinya jika singgah di Lampung.

Jadwal kapal penyeberang masih lama, saya memutuskan tidak masuk ke ruas tol dan berbelok ke jalan perkampungan. Separuh mulus, tapi separuhnya lagi penuh lubang menganga dengan aspal terkelupas menyisakan ceruk berbatu, dan debu mengepul setiap ada kendaraan melintas. Di sepanjang jalan yang buruk itu saya melihat poster dan spanduk ucapan selamat datang dari dua pejabat setempat. Saya mencatatnya dan berharap akan menjadi bahan obrolan ihwal pelayanan publik kepada sahabat saya itu, Ahmad Yulden Erwin alias AYE, seorang penyair yang juga aktivis anti korupsi.

Sekitar lima tahun berkenalan di Facebook, saya tak pernah bertemu fisik dengan AYE. Perjumpaan pertama terjadi di inbox Messenger saat dia berkomentar tentang puisi saya yang dimuat di sebuah harian nasional. Dia memuji tapi juga memberi sedikit catatan tajam.

Dalam perbincangan yang berlanjut saya mendapat kesan dia seorang yang perfeksionis, teguh dengan pendiriannya, dan tak sungkan menyerang hal-hal yang menurutnya tak benar. Dia pernah mengatakan kepada saya bahwa puisi Indonesia tak akan pernah masuk ke pentas dunia jika para penyairnya belum paham berbahasa dengan ketepatan lingustik. Saya separuh setuju dengan pernyataan itu.

Tapi dia tak omong kosong. AYE memiliki kecermatan dan bekal logika yang tajam, dia melakukan studi tentang sastra Indonesia dengan intensif, yang dilakukannya lebih dari seperempat abad, dan punya keyakinan sendiri tentang puisi yang baik dan yang buruk. Tak banyak penyair yang melakukan studi seserius itu dengan obsesi yang tinggi akan kualitas karya. AYE melakukannya dengan sabar dan tekun, dan saya kira dengan segala kelemahan dan kelebihannya, dia telah membuat sebuah arus sendiri dalam kancah sastra Indonesia.

Dalam kumpulan puisinya Perawi Tanpa Rumah (2013), kita bisa menikmati koherensi antara kerapian bentuk dan kedalaman isi, loncatan imaji dan bunyi, serta kekayaan makna. Pada 2014, Majalah Tempo menyebutkan Perawi Tanpa Rumah sebagai buku puisi terbaik tahun 2013. Lima tahun kemudian dia menerbitkan kumpulan puisi Perawi Rempah, dan berhasil masuk 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa. Harus diakui, puisi AYE adalah hasil rautan kata dengan presisi, atau merefleksikan apa yang disebutnya sebagai “ketepatan linguistik”, suatu hal yang menjadi doktrin bagi proses kreatifnya.

Puisinya adalah semacam tembikar yang dikerjakan dengan gejolak suara batin plus kesadaran bentuk yang terukur. Dia memang mencintai tembikar, setidaknya, dalam satu episode hidupnya dia melakukan studi khusus tentang tembikar selama sembilan tahun dengan membenamkan diri pada kepustakaan karya seniman keramik dunia dari khasanah Timur sampai Barat, dan menyelaminya dengan spritualitas Zen.

Akhir tahun lalu dia mengirimkan kepada saya sebuah manuskrip puisi berjudul “Sirah Tembikar”, berisi sekitar seratus tujuh puisi yang ditulisnya dalam kurun 2013-2021. Dia mengirimkan file elektronik dan saya membuka bagian pengantar yang dengan jelas menggambarkan maksud si penyair melakukan meditasi terhadap objek tembikar di kumpulan puisi itu: “Seperti Matsuo Basho, penyair haiku abad pertengahan dari Jepang, Ahmad Yulden Erwin mencoba ‘merasakan’ objek-objek seni keramik kontemporer yang dilihatnya, ‘masuk’ ke dalamnya, dan membiarkan energi di dalam setiap objek seni keramik itu berkata-kata.”

Dua tahun lalu dia membuka Akademi Menulis yang mengajarkan puisi dan prosa kepada siapa saja yang berminat. Ini adalah kelas daring, dan tentu saja tepat untuk masa pandemi Covid-19. Frasa “kepada siapa saja” mungkin tidak tepat karena AYE akan melakukan semacam seleksi dengan caranya sendiri, memeriksa motivasi, dan meyakinkan dirinya bahwa calon murid datang adalah yang bersemangat belajar tinggi. Harus diakui ini bukanlah kelas yang mudah, karena AYE sangat disiplin dengan waktu, dan menuntut kepatuhan kepada aturan. Waktu belajarnya setahun, dan berbayar, serta kelas dilakukan setiap dua jam dalam sepekan.

Saya mendaftar menjadi muridnya. Saya mengagumi semangatnya yang saat itu baru pulih dari serangan stroke berat, yang menurutnya, hampir saja mengakhiri hidupnya. “Ini kesempatan kedua dalam hidup saya”, katanya dalam sebuah chat dengan saya. Separuh badannya lumpuh, tapi dia bertekad untuk sembuh. Dengan berbagai terapi, AYE akhirnya bisa berjalan meskipun masih timpang, dan hanya satu tangannya yang aktif. Dalam keadaan begitu dia mengajar belasan murid, namun akhirnya, seperti kata dia kepada saya, hanya lima yang bertahan sampai akhir di ‘batch’ awal itu.

Saya bisa membayangkan karakter AYE yang gampang meledak-ledak, dan menuntut kepatuhan itu, sulit dan mungkin menjengkelkan bagi sejumlah orang. Saya memaklumi mereka yang akhirnya mundur dari kelas itu. Saya bertahan karena saya menikmati ‘ketegangan’ bersama AYE, dan sesekali balik menghardiknya. Dia tak akan marah jika bantahan itu punya argumen kuat. Selama setahun itu saya belajar banyak tentang kepribadiannya dan mencoba bergerak dengan iramanya.

“Kelas kita selesai hari ini. Semua yang saya tahu sudah saya bagikan ke kamu. Sekarang kamu berjalan sendiri”, kata AYE saat program kursus itu selesai, akhir tahun lalu. Kedengarannya seperti nasihat seorang suhu di kuil Shaolin kepada muridnya, dan saya membalasnya dengan ucapan terimakasih. Sejujurnya saya merasa ada yang hilang, sebuah rutinitas berdiskusi denga seorang guru yang kadang terkesan congkak tapi berisi, pongah tapi rajin, pemarah tapi juga lembut hati. AYE adalah sosok paradoksal yang cerdas, dan saya mengagumi sisi keras kepalanya dia.

Sejak kelas berakhir, kami hanya sesekali kontak via Mesenger, dan saya hanya menyapanya di akun Facebook setiap ada postingan puisi menarik dari para penyair nasional. Saya sadar bahwa pergaulan virtual dengannya sepertinya tak cukup, dan saya berniat bertemu fisik dengannya. Itu sebabnya, saat berkunjung ke Lampung, saya mengontaknya dengan harapan bisa mampir ke rumahnya, beruluksalam dengan keluarganya.

Tapi kontak itu tak berbalas sampai saya kembali menyeberangi Selat Sunda dan tiba kembali di Jakarta.

Malamnya ada sebuah pesan tanpa basa-basi dari AYE: “Kenapa telepon?” Saya menjelaskan maksud panggilan tak terjawab itu, dan dia mengatakan keluarganya pasti senang kalau saja kemarin saya dapat singgah ke rumahnya. Kelak saya mengetahui bahwa AYE jarang memegang telepon genggamnya, dan sehari-hari istrinya yang biasa menjawab kalau ada panggilan yang masuk.

Chat di Messenger itu sepi untuk beberapa hari sampai Jumat pekan lalu dia mengontak apakah saya bersedia menjadi tim untuk mengusulkan Goenawan Mohamad sebagai calon penerima Nobel Sastra dari Indonesia. Saya tak membuka Messenger beberapa hari, dan kemudian Sabtu kemarin saya membaca pesan itu berikut hardikannya yang khas, “Bagaimana keputusanmu, kalau kau tak mau bilang saja, agar aku bisa lapor ke Mas GM”. Saya tersenyum membacanya, betapa gigih kawan penyair ini, betapa beraninya dia menentang arus, dan bekerja untuk dunia sastra.

Hari Ahad lalu (13/2/2022), saya mendapat kabar, pada menjelang pukul tiga petang, Ahmad Yulden Erwin meninggal. Kepergiannya begitu mendadak, dia pergi saat usianya belum lagi genap setengah abad. Pikiran saya mendadak terbang melintasi Selat Sunda, ke dermaga di Bakauheuni, dan secangkir kopi pada momen menunggu panggilan yang tak terjawab itu.

Saya teringat ucapannya tentang “kesempatan hidup kedua”, adakah saat itu dia sedang menata jalan pulang, seperti yang ditulisnya dalam puisi “Pulang Pagi”, bahwa maut adalah “cahaya matahari berkilau lembut di mata seekor kelinci”.

Pulang Pagi

Suatu pagi di jalan pulang
Seekor kelinci berlompatan
Lesap ke tangkai-tangkai seruni

Sepasang lubang hidung
Mengincar lekuk punuk capung
Lenyap di rumpun daun kemangi

Sepasang mata telah bersayap
Terbang ke kilau embun pagi
Sepasang telinga telah penyap
Resap ke rimbun kicau kecici

Ada yang telah pulang sekarang
Bersulih gema paling sunyi
Tiada lagi percik api, tiada lagi

Maut adalah cahaya matahari
Berkilau lembut di mata seekor kelinci

~ Ahmad Yulden Erwin, dari kumpulan “Sirah Tembikar” (2021)

Selamat jalan, Kawan AYE. Al Fatihah.

You cannot copy content of this page