Beranda Views Kisah Lain Alami Jantung Bocor Sejak Usia 13 Tahun, Warga Sukabanjar Lamsel Ini Butuh...

Alami Jantung Bocor Sejak Usia 13 Tahun, Warga Sukabanjar Lamsel Ini Butuh Uluran Tangan

1790
BERBAGI
Sulis Setiongsih (28), penderita penyakit jantung sejak 15 tahun lalu. Kedua orang tuanya tak mampu membawanya ke rumah sakit atau ke dokter karena kondisi ekonominya yang makin parah. Ia membutuhkan uluran tangan para dermawan.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Sulis Setioningsih (28), putri ke tiga dari pasangan Sukatno (56) dan Pertiwi (55), warga Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan terbaring lemah tak berdaya di atas kasur lantaran jantungnya  bocor sejak masih berusia 13 tahun.

Akibat penyakit jantung bocor yang dideritanya ini, Sulis tidak bisa melanjutkan pendidikan sekolah SMP dan merelakan masa-masa remajanya hilang. Saat ini Sulis dan keluarganya hanya bisa berdoa dan berharap, ada perhatian dari pemerintah dan uluran tangan dari para dermawan.

BACA: “Tergencet” Kebijakan BPJS, Warga Lamsel Penderita Sakit Jantung Ini tak Bisa Berobat

Saat teraslampung.com berkunjung ke kediamannya di Desa Sukabanjar, Jumat (7/2/2020) sore, Sulis terbaring lemah.  Ia ditemani ibunya, Pertiwi (55), dan kakak perempuannya, Kresna Widi Astuti (32).

Kondisi tanpa daya itu dialaminya  sejak lima tahun belakangan ini. Sulis sudah tidak dapat berjalan lagi karena kedua kakinya bengkak.

Raut wajah Sulis tampak putih pucat pasi, tubuhnya semakin kurus. Meski sudah dewasa, tapi raut wajahnya masih seperti anak usia belia.

Melihat kondisi anaknya yang sejak kecil hingga sudah dewasa mengalami sakit selama belasan tahun, kedua orangtuanya mengaku hatinya kerap terasa seperti teriris. Sangat sedih, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa untuk kesembuhan anaknya lantaran tidak sudah tidak punya biaya.

Orang tua Sulis bukannya tidak pernah berusaha untuk kesembuhan putrinya. Biaya pengobatan yang mahal, memaksa kedua orangtuanya menjual tanah serta rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Namun penyakit yang diderita Sulis tidak kunjung sembuh. Bahkan, lantaran penyakitnya itu Sulis harus putus sekolah di bangku sekolah SMPN 1 Sidomulyo.

Karena sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, akhirnya putri ketiga dari empat saudara ini bersama kedua orangtuanya saat ini tinggal di kediaman kakak perempuan pertamanya di Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo.

“Sudah lima tahun ini sudah tidak bisa apa-apa, ya hanya terbaring saja di atas kasur. Entah dari mana lagi dan mau bicara apa lagi saya ini mas, rasanya air mata saya ini sudah habis. Begitu juga ayahnya saat pulang dari bekerja sebagai sopir, haya bisa memeluk Sulis sembari menangis,”kata Pertiwi (55) kepada teraslampung.com.

Dengan mata berkaca-kaca Pertiwi menceritakan, untuk membiayai pengobatan putrinya yang alami jantung bocor sejak usinya masih kecil hingga dewasa ini, ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Tanah beserta rumah miliknya yang ada di Desa Seloretno dan Desa Budidaya, sudah habis dijual semua untuk membiayai pengobatan putrinya.

“Sejak usia 13 tahun Sulis alami sakit jantung bocor, saat itu baru-barunya masuk sekolah SMP. Tapi saat itu Sulis masih bisa jalan, kalau sekarang ini sejak lima tahun belakangan ini sudah tidak bisa apa-apa hanya berbaring saja di tempat tidur,”ujarnya.

Dikatakannya, putrinya Sulis ini, pada saat lahir dalam keadaan prematur selain itu juga tidak memiliki lubung anus. Kemudian dilakukan operasi di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM), akhirnya Sulis dapat bermain lagi bersama keluarga dan temannya secara normal tanpa mengeluhkan penyakit.

“Setelah dua tahun seelah operasi, kondisi anak saya ini mengalami kelemahan saat itu saya konsultasi ke RSUAM lagi. Saat itu saya bertanya ‘Dok anak saya kondisinya makin hari kondisinya kok lemah ya?’ lalu kata dokter menjawab, ‘Tidak apa-apa itu haya lemah jantung aja’,” kata Pertiwi, sembari sesekali menyeka air matanya.

Saat masuk sekolah di SMP Negri 1 Sidomulyo, kata Pertiwi, ia mengatakan ke pihak sekolah mengenai kondisi putrinya dan meminta adanya perhatian khusus.

Baru masuk satu semester, kondisinya semakin menurun mungkin karena bayaknya aktivitas di sekolah. Sejak saat itulah Sulis sering masuk ke Rumah Sakit, hingga akhirnya harus berhenti dari sekolah.

“Saat itu ada yang menyarankan ke saya, untuk mencoba memeriksakan putri saya ke dokter spesialis jantung di wilayah Garuntang Bandarlampung. Setelah diperiksa, dokter menyimpulkan putri saya didiagnosis positif jantung bocor,”ungkapnya.

Pada saat itulah, perhatiannya terhadap kondisi Sulis semakin intensif dengan melakukan pengobatan ke beberapa Rumah Sakit di Bandarlampung. Antara lain di Rumah Sakit Abdul Moeloek (RSUAM), RS Graha Husada, dan RS Bumi Waras.

“Hampir tiap bulan kami harus bolak-balik ke rumah sakit. Bahkan putrinya juga, pernah dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta dengan harapan bisa sembuh.

“Dirawat di RS Jantung Harapan Kita selama 3,5 bulan saat usia Sulis 17 tahun, alhamdulilah saat itu berobatnya masih pakai Jamkesmas dan saat itu ada 9 orang tim dokter yang menanganinya,”kata dia.

Setelah 3,5 bulan dilakukan perawatan, kata Pertiwi, ia disarankan oleh tim dokter RS Jantung Harapan Kita untuk pulang terlebih dulu nanti akan dikabari hasilnya. Setibanya di Rumhanya, keesokan harinya mendapat kabar melalui sambungan telepon dari salah satu tim dokter bahwa putrinya tersebut tidak bisa dilakukan tindak lanjut.

“Tim dokter itu bilang tidak bisa dilanjutkan, kalau dilanjutkan bisa fatal karena kesuksesanya hanya sekitar 10 persen saja. sejak dari situlah, saya dan suami merasa bingung harus kemana lagi akhirnya kami memutuskan mencoba mengobatinya ke jalur alternative hingga sekarang ini,”terangnya.

Pengobatan Sulis terhenti sejak tahun 2018 lalu, lantaran BPJS mandiri yang dimilikinya sudah terhenti pembayarannya karena sudah tidak memiliki biaya lagi.

Loading...