Beranda Views Analisis Berdebar-debar Menunggu Rekomendasi DPP PDIP

Berdebar-debar Menunggu Rekomendasi DPP PDIP

391
BERBAGI
Ilustrasi/Supriyanto

SAMPAI Jumat siang, 24 Juli 2020, banyak orang yang berdebar-debar menunggu rekomendasi DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam Pilkada Bandarlampung. Tentu saja, yang paling berdebar-debar adalah Eva Dwiana, Tulus Purnomo, dan Rycko Menoza. Maklum, ketiganya berharap rekomendasi DPP PDIP bisa mereka dapat.

BACA: PDIP Berikan Rekomendasi untuk Nanang-Pandu dan Anna-Fritz

Rekomendasi DPP PDIP untuk pilkada Bandarlampung kabarnya akan diserahkan pada Jumat siang pukul 13.00 WIB. Mereka layak berdebar-debar karena rekomendasi tentu hanya untuk satu orang atau satu pasangan.

Yang pastinya juga ikut berdebar adalah para pendukung ketiga politikus itu. Mereka sama-sama yakin rekomendasi dari DPP PDIP bisa didapatkan oleh sosok yang selama ini mereka dukung.

Dari ketika nama itu, semuanya punya sejarah dan pengalaman bergelut di PDIP. Tulus Purnomo termasuk yang paling senior. Ia sudah bergabung dengan PDIP sejak partai itu berdiri. Di Lampung, terutama di era PDIP masih digawangi Taufik Kiemas, Tulus termasuk orang kepercayaan DPP PDIP. Ia semacam sosok penghubung yang dipercaya.

Eva Dwiana meskipun bergabung sesudah Tulus, ia juga tidak bisa dianggap enteng. Anggota DPRD Lampung dari Fraksi PDIP ini adalah sosok yang turut andil besar untuk kemenangan Herman HN pada pilkada Bandarlampung 2015 lewat “gerakan emak-emak” dan kelompok pengajian. Eva sampai hari ini kabarnya juga masih sangat populer dalam sejumlah hasil survei.

Rycko Menoza juga punya riwayat kedekatan dengan PDIP. Putra mantan Ketua DPD I PDIP Lampung Sjachroedin ZP ini pernah menjadi ketua PDIP Lampung Selatan. Itu saat ia menjabat sebagai Bupati Lampung Selatan. Ketika ayahnya masih menjabat Ketua PDIP Lampung, Rycko belok arah berlabuh ke Partai Golkar.

Di antara tiga nama tersebut di atas, Tulus Purnomo paling ligat dalam mendapatkan dukungan parpol untuk maju dalam Pilkada Bandarlampung. Rela menjadi orang kedua dan berpasangan dengan tokoh Partai Demokrat Yusuf Kohar, pasangan Yusuf Kohar – Tulus Purnomo sudah mendapatkan dukungan dari empat partai (tidak/belum termasuk PDIP).

Partai yang sudah memberikan rekomendasi untuk Kohar – Tulus adalah Partai Demokrat (5 kursi di DPRD Lampung), Perindo (2 kursi) PAN (6 kursi) PKB (3 kursi). Total jenderal kursi keempat partai tersebut adalah 16. Artinya, 32 persen dari total kursi di DPRD Bandarlampung. Itu juga berarti sudah lebih dari 20 persen batas minimal koalisi parpol bisa mengusung pasangan calon  di KPU agar bisa maju pada Pilkada Bandarlampung.

Eva Dwiana yang berpasangan dengan Dedi Amarullah sampai Jumat siang (24/7/2020) baru mendapatkan rekomendasi dari Partai Nasdem (5 kursi). Ia masih butuh dukungan partai lain untuk bisa maju di Pilkada Bandarlampung. Tentu, harapan terbesar Eva adalah dukungan dari PDIP (9 kursi). Sebab, kalau rekomendasi DPP PDIP jatuh ke tangan Eva – Dedi maka mereka akan memenuhi syarat lolos bisa mencalonkan diri di Pilkada Bandarlampung.

Sementara Rycko Menoza diyakini akan didukung oleh Partai Golkar (6 kursi). Ia juga berharap rekomendasi PDIP jatuh ke tangannya sehingga bisa menggenapkan syarat dukungan parpol. Jika ia diusung Partai Golkar dan PDIP, maka total kursi kedua parpol di DPRD Lampung ada 15.

Dengan peta semacam ini, maka partai peraih suara gemuk pada Pemilu 2019 lalu masih sangat seksi untuk diperebutkan. Partai-partai itu adalah: Gerindra (7 kursi) dan PKS (6 kursi).

Usai acara penyerahan rekomendasi DPP PDIP untuk bakal calon kepala daerah Metro dan Lampung Tengah, Jumat siang (24/7/2020), para wartawan mengira masih ada penyerahan rekomendasi untuk bakal calon Walikota Bandarlampung. Namun, acara selesai, tidak ada penyerahan surat rekomendasi DPP PDIP untuk jago yang akan diusung PDIP di Pilkada Bandarlampung.

Sampai kapan Eva Dwiana, Tulus Purnomo, dan Rycko Menoza berdebar-debar?

Pastinya, kata Ketua DPP PDIP Lampung, Sudin, rekomendasi DPP PDIP akan diserahkan dua minggu ke depan atau setelah Idul Adha.

Oyos Saroso H.N.

Loading...