Beranda News Nasional BMKG: Tsunami di Selat Sunda Disebabkan Erupsi Gunung Anak Krakatau

BMKG: Tsunami di Selat Sunda Disebabkan Erupsi Gunung Anak Krakatau

1789
BERBAGI
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi setinggi 1.000 meter pada 1 Oktober 2018. (Foto: dok BNPB)
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi setinggi 1.000 meter pada 1 Oktober 2018. (Foto: dok BNPB)

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Penyebab tsunami di wilayah perairan Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu malam 22 Desember 2018, bukan dipicu gempa melainkan cuaca buruk dan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

“Gelombang tinggi yang terjadi di pesisir Selat Sunda karena cuaca, selain karena cuaca tsunami juga terjadi karena erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Namun karena seismomneter rusak, maka tidak diduga akan terjadi tsunami,”kata Dwikorita, Minggu 23 Desember 2018.

Dikatakannya, BMKG sebenarnya telah mendeteksi dan memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku dari tanggal 22 Desember 2018 sekitar pukul 07.00 WIB hingga tanggal 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda.

“BMKG berkoordinasi dengan Badan Geologi, melaporkan bahwa pada pukul 21.03 WIB Gunung Krakatau erupsi kembali sehingga peralatan seismometer setempat rusak, tapi seismic Stasiun Sertung merekam adanya getaran termor terus menerus,”terangnya.

BACA: BPBD: Tsunami Pesisir Lampung Selatan, 7 Orang Meninggal, 95 Luka-luka

Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, kata Dwikorita, peristiwa tsunami tersebut disebabkan oleh aktifitas gempabumi tektonik. Namun sensor Cigeuklis (CGJI) mencatat, adanya aktivitas sesismik dengan durasi + 24 detik dengan frekwensi 8-16 Hz pada pukul 21.03 WIB.

Adapun berdasarkan hasil pengamatan Tidegauge Serang di Pantai Jambu, Desa Bulakan, Cinangka, Serang tercatat pukul 21.27 WIB ketinggian gelombang 0,9 meter. KemudianTidegauge Banten di Pelabuhan Ciwadan, tercatat pukul 21.33 WIB ketinggian 0,35 meter dan Tidegauge Kota Agung di Desa Kota Agung, Lampung tercatat pukul 21.35 WIB ketinggian 0,36 meter. Selanjutnya yang terakhir, Tidegauge Pelabuhan Panjang, Bandarlampung tercatat pukul 21.53 WIB ketinggian 0,28 meter.

“Kami berharap kepada masyarakat, diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Diimbau juga, untuk tetap menjauh dari pantai selat Sunda hingga ada perkembangan informasi selanjutnya dari BMKG dan Badan Geologi,”ungkapnya.

Menurutnya, gelombang tinggi yang menerjang bisa jadi lebih tinggi dari yang terdata, sebab ada beberapa wilayah di sekitar Selat Sunda yang memiliki morfologi teluk seperti di Palu.

Menurut ahli Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko menduga, bahwa penyebab terjadinya tsunami dengan ketinggia tertinggi 0,9 meter tersebut disebabkan oleh erupsi Gunung anak Krakatau (GAK) yang bererupsi hingga empat kali dan terakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Erupsi GAK tersebut, diduga menyebabkan guguran material yang jatuh ke lautan hingga akhirnya mengakibatkan gelombang tinggi.

BACA: Pesisir Kalianda dan Rajabasa Diterjang Gelombang Laut, Warga Mengungsi ke Dataran Tinggi

Sementara menurut Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 43 rumah dan 9 hotel mengalami rusak berat akibat tsunami yang melanda wilayah sekitar kawasan Selat Sunda, Sabtu 22 Desember 2018 malam.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kerusakan bangunan sebagian besar terjadi di sejumlah kawasan permukiman dan wisata di lima wilayah pantai.

“Daerah yang terdampak parah pemukiman dan wisata di Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang dan Pantai Carita,”ujarnya dalam keterangan tertulisnya Minggu 23 Desember 2018.

Sementara itu, data secara umum sebanyak 20 orang meninggal dunia, 165 orang luka-luka dan 2 orang hilang. Data tersebut, merupakan data terkini BNPB pada Minggu hingga pukul 04.30 WIB.

BACA: Rob Akibat Air Laut Pasang Landa Kawasan Pesisir Kalianda Lampung Selatan

“Dari 20 orang yang meninggal dunia, 165 orang luka-luka 2 orang hilang itu terdapat di 3 wilayah yakni di Kabupaten Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan,”kata Sutopo.

Loading...