Beranda Ruwa Jurai Lampung Selatan Pesisir Kalianda dan Rajabasa Diterjang Gelombang Laut, Warga Mengungsi ke Dataran Tinggi

Pesisir Kalianda dan Rajabasa Diterjang Gelombang Laut, Warga Mengungsi ke Dataran Tinggi

5098
BERBAGI
Warga Kalianda yang panik pada Sabtu malam,22 Desember 2018, mengungsi ke kawasan lebih tinggi.
Warga Kalianda yang panik pada Sabtu malam,22 Desember 2018, mengungsi ke kawasan lebih tinggi.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Gelombang tinggi landa wilayah Kecamatan Kalianda dan Rajabasa, Lampung Selatan Sabtu malam 22 Desember 2018 sekitar pukul 22.00 WIB. Warga yang tinggal di pesisir pantai, berlarian menyelamatkan diri ke tempat lebih tinggi saat gelombang pasang terjadi.

Menurut keterangan salah seorang warga Kalianda, Debby. M menuturkan, gelombang pasang itu terjadi Sabtu malam tadi 12 Desember 2018 sekitar pukul 21.00 WIB. Dikatakannya, tiba-tiba, gelombang tinggi itu melanda dan masuk ke permukiman warga

“Saat itu, saya sedang berada di rumah bersama keluarga, tiba-tiba saja air laut kok surut. Taklama berselang, gelombang langsung pasang dan masuk ke dalam rumah,”ucapnya.

Saat gelombang tinggi terjadi, kata Debby, saat itu juga ia langsung mengajak keluarganya berlari cepat keluar rumah menyelamatkan diri untuk mengungsi ke gunung atau ke tempat yang lebih tinggi.

“Saat gelombang pasang terjadi, sempat dua kali menghantam,”ungkapnya.

BACA: Rob Akibat Air Laut Pasang Landa Kawasan Pesisir Kalianda Lampung Selatan

Perahu di PPI Bom, Kalianda, tersapu gelombang pasang laut hingga ke daratan.

Menurutnya, di wilayah PPI Bom, Kalianda, saat gelombang pasang hingga setinggi empat meter lebih. Bahkan perahu yang ada ditepi dermaga dan juga mobil yang sedang terparkir langsung terseret, dan beberapa bangunan juga ada yang rusak.

“Yang jelas, ada banyak lah yang mengungsi. Tapi jumlahnya berapa, saya tidak tahu persis mungkin ratusan orang atau lebih,”tukas Debby dengan nada yang cemas.

BACA: BMKG: Tsunami di Selat Sunda Disebabkan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Berdasarkan informasi yang dihimpun Teraslampung.com, kepanikan warga bertambah setelah air masuk ke dalam rumah ditambah lagi padamnya lampu listrik.

Saat itu juga, mereka langsung berlari berhamburan ke luar rumah menyelamatkan diri dengan membawa keluarganya menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Tinggi gelombang air laut tersebut, tidak hanya membuat kepanikan khususnya warga yang tinggal di pesisir Kalianda dan Rajabasa saja. Melainkan juga, warga yang tinggal di wilayah Lampung Selatan lainnya seperti Merak Belantung, Suak, Tarahan dan Rangai. Sementara warga yang tinggal di Desa Tarahan, mengungsi ke dataran tinggi di sekitar Tanjakan Tarahan.

BACA: BMKG: Tsunami di Pantai Barat Banten tidak Dipicu oleh Gempa Bumi

Sementara menurut Usman (43), salah seorang warga Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo juga mengatakan, gelombang pasang juga terjadi di wilayah tempat tinggalnya. Bahkan ia bersama keluarganya dan warga lainnya, langsung berlarian pergi mengungsi ke dataran lebih tinggi

“Ya benar, di tempat kami juga terjadi gelombang pasang. Saat ini saya dan keluarga masih mengungsi di tempat yang tinggi, tapi ada juga warga yang pergi mengungsi di tempat kerabatnya di wilayah Pasar Sidomulyo,”ujarnya.

Warga Kalianda mengungsi karena rumahnya tergenang banjir rob akibat air laut pasang.

Kabar gelombang tinggi tersebut, baik melalui rekaman video dan foto langsung beredar luas di jejaring sosial facebook dan WhatsApp. Bahkan sebuah rekaman video, seputar naikknya air laut ke daratan pesisir Kalianda hingga ke Grand Elty Krakatoa dan juga Telukbetung, Bandarlampung beredar di group sosial media WhatsApp Jurnalis Lampung.

Kemudian beberapa video lain, sebuah kendaraan mobil terlihat rusak parah akibat terseret air dan ada juga warga sedang berlarian berhambuaran keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Tidak hanya itu saja, bahkan warga yang tinggal di wilayah Telukbetung, Bandarlampung mengungsi di beberapa tempat lebih tinggi sepeti di SPBU Taman siswa (Tamsis), Polda Lampung dan di Kantor Provinsi Lampung.

Melalui akun twitter BMKG yang diunggah Sabtu 22 Desember 2018 sekitar pukul 22.37 WIB, dinyatakan bahwa yang terjadi bukanlah tsunami melainkan gelombang air laut pasang.

BACA: Air Laut di Pantai Barat Banten Meluap: 1 Orang Tewas, 11 Terluka

Berikut bunyinya: # BMKG tidak mencatat adanya gempa yang menyebabkan tsunami malam ini, yang terjadi di anyer dan sekitarnya bukan tsunami, melainkan gelombang air laut pasang. Terlebih malam ini ada fenomena bulan purnama yang menyebabkan air laut pasang tinggi. Tetap tenang.

Meskipun BMKG meminta warga untuk tetap tenang, namun ratusan warga masih tetap khawatir dan bahkan mereka masih mengungsi ke berbagai tempat dataran tinggi.

Loading...