Ini Curahan Hati Guru Ernawati untuk Murid-Murid SD Kuala Sidang

  • Bagikan

Zainal Asikin | TERASLAMPUNG.COM

MESUJI– Sangat jarang guru bersetia dengan kehidupan kampung yang serba kekurangan dan minim perhatian pemerintah daerah. Namun, tidak demikian halnya dengan Ernawati, guru di SD Kuala Sidang, Kecamatan Rawajitu Utara, Kabupaten Mesuji, yang sudah mengabdikan diri sebagai pendidik lebih dari 10 tahun.

Meskipun tidak berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan tidak mendapatkan gaji dari pemerintah, Ernawati tetap mengajar murid-muridnya dengan ikhlas. Murid-muridnya yang rata-rata orang tuanya berasal dari kelas bawah bukanlah halangan untuk memperkuat niatnya mencerdaskan generasi bangsa. Kelas yang berdinding papan dan anyaman daun kelapa pun tidak membuatnya sedih. Kekurangan yang ada di sekolahnya justru dia jadikan pemacu semangatnya untuk terus bertahan dan melecut semangat murid-muridnya.

BACA: Sambil Menggendong Anak, Ibu Guru Ini Tetap Semangat Mengajar

Kondisi sekolah yang menyedihkan mungkin pernah ditulis media. Namun serta merta lenyap ditelan berbagai isu di Mesuji. Termasuk isu politik pilkada, korupsi, perambahan liar, konflik lahan, dan lainnya.

Nama SD Kuala Sidang kembali mencuat ke permuakan — terutama di media sosial– setelah penyanyi Lampung Kim Commanders mengunggah beberapa gambar di akun Facebook. Kim tidak sekadar mengunggah gambar, tetapi juga merintis penggalangan dana. Setelah ramai di medsos, kemudian banyak pihak peduli.

Di antara foto SD Kuala Sidang yang diunggah Kim terdapat foto guru perempuan yang sedang mengajar sambil menggendong anaknya. Ia adalah Ernawati, guru plus relawan yang sudah lebih dari 10 tahun mengajar di SD itu.

BACA: Prihatin Sekolah Beratap Daun Kelapa, Kim Commanders Galang Sumbangan Dana

Atas kebaikan hati Kim, tulisan curahan hati Ernawati pun turut diunggah di Facebook. Berikut curahan hati guru Ernawati kepada anak-anak didiknya:

Anak-anakku…

Ibu tulis catatan harian ini di dua pertiga malam, saat riak air mulai terpaku di antara jilatan lentera. Ibu tahu, esok seharusnya Ibu menyampaikan isinya pada kalian setelah pagi tiba, tepat saat berkas cahaya matahari mengoyak anyaman kabut di kaki muara Kuala Mesuji.

Kalian tentu paham, Ibu memang sudah biasa melakukannya. Menulis adalah satu-satunya jalan mengadu pada Tuhan saat satu dari kalian kembali harus terperosok di papan lantai sekolah kita yang berlubang. Atau, ketika kita harus mencari sudut paling aman sebab hujan tak berjeda terus menitikkan air melalui atap berkarat yang renta.

Sungguh, di saat-saat seperti itu, Ibu akan menyampaikannya pada gemulai daun nipah agar ia tahu; kita masih di sini sebagai teman. Kalian benar, kekasih rumpun rasau itu bahkan adalah sahabat yang selalu memeluk saat ruang kelas kita bergerak-gerak dihempas gulungan badai. Ia selalu berjuang untuk menyelamatkan kita.

Jika sampai hari ini kita masih di sini dan tetap sendiri, ingatlah, jangan salahkan siapa pun, Nak. Mengutuk tak akan mengubah keadaan, mencaci tak akan membalik situasi. Ibu akan tetap berada di sini untuk terus bersama kalian sampai nafas Ibu terhenti.

Percayalah, masih banyak anak-anak lain yang jauh lebih tragis dari kita. Di sebuah belahan dunia lain, mereka bahkan harus beradu deru dengan dentuman bom dan amukan meriam.

Ibu hanya berharap, kalian akan terus mengingat pesan Kim Commanders dalam lagu nya “Children With No Land” sebab dia benar tentang itu.

Dan karenanya, jangan lagi kita menghakimi siapa pun mulai hari ini. Sebab kita akan terus menjaga Kuala sebagaimana Ibu yang akan terus menggenggam tangan kalian.

Tersenyumlah, Nak. Biarlah semua kegetiran ini untuk Ibu saja.

 

  • Bagikan