Beranda Kolom Sepak Pojok Hantu Pilgub, Hantu Pilek

Hantu Pilgub, Hantu Pilek

17273
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Pada bulan Ramadhan lalu, berton-ton gula putih dibagi-bagikan ke seantero Negeri Rai Munyuk oleh para hantu. Para hantu baik hati itu berjuang keras agar ratusan ribu tas kresek berisi sekilo gula putih,selembar uang, dan stiker bergambar sepasang calon Kepala Negeri  bisa sampai ke tangan yang dianggap berhak sebelum Lebaran.

Karena waktu sudah sangat mendesak, banyak hantu nakal. Hantu-hantu nakal itu–sebagian besar sedang menderita pilek dan demam tinggi–hanya main lempar saja tas-tas plastik berisi paket gula itu kepada hampir setiap pengguna jalan.

Yang terkena sial (atau untung) salah satunya adalah Mat Pakir. Ketika sedang jalan-jalan sore untuk mencari bakal buka puasa, dia dilempar seseorang, eh, sese-Hantu,  dari dalam mobil yang berjalan pelan: tas kresek berisi satu kilogram gula putih, selembar stiker, dan selembar uang.

Mat Pakir tersinggung. Ia lalu mengejar hantu pilek pelempar paket gula tersebut.

“Saya memang miskin, tapi tidak begini caramu menghinaku!” bentak Mat Pakir.

Hantu nyengir, menunjukkan giginya yang putih bersih.

“Jadi apa maumu mas bro?” tanya Hantu.

“Dasar setan! Mestinya saya yang bertanya! Maumu apa kok main lempar orang sembarangan?!”

“Jangan marah dulu. Puasa kan? Nanti puasamu batal!”

Mat Pakir terperanjat.

“Jadi,begini mas bro. Demi kelancaran rejeki kita masing-masing dan demi pahala yang akan kamu peroleh, ambillah tas kresek itu. Kalau tidak mau tas kreseknya, ya ambil isinya saja. Tas kreseknya dibuang ke tempat sampah,” Hantu memberi nasihat.

“Setan!” pekik Mat Pakir.

“Ssttt! Bulan puasa. Enggak boleh marah…”

“Lalu?” tanya Mat Pakir.

“Lalu ya pakailah gula putih itu untuk bahan bikin kolak, bikin secangkir kopi, atau segelas teh tubruk. Nah, uangnya bisa kau kasih sama istrimu. Enak kan…?”

“Slompreeeeeeeet!” Mat Pakir kembali memekik.

“Sudahlah mas bro, saya masih banyak kerjaan. Tugas saya masih banyak. Ini harus selesai dua hari sebelum  Idul Fitri…daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaag….” Hantu meninggalkan Mat Pakir yang menahan geram.

Meski ¾ marah, Mat Pakir akhirnya membawa tas kresek  itu pulang….

***

BACA: Gula Putih Itu Masih Menunggu Tuannya

Di beberapa daerah di Lampung baru-baru ini ditemukan berpuluh-puluh ton gula putih yang diduga dipakai untuk memberi kado kepada rakyat Lampung–yang hobinya memang diberi–agar memilih calon gubernur Lampung yang dijagokan oleh perusahaan gula.

Cagub yang konon ahli strategi karena sudah lulus kursus Lemhanas—ini kata Dr. Tisnanta, dosen Universitas Lampung—itu adalah anak muda tajir. Tajir karena orang tuanya adalah bos pabrik gula.

Tapi, partai yang mengusung cagub itu mengelak, membantah keras bahwa gula-gula yang mulai bertebaran itu dikirim oleh pabrik gula, wabil khusus oleh cagub Lampung yang juga anaknya bos pabrik gula. Gula putih berton-ton itu dititipkan ke rumah penduduk dan sudah siap dibagikan karena sudah dikemas.

Yang aneh, ketika gula dalam jumlah besar dan sudah siap edar itu diketahui masyarakat dan dilaporkan ke pengawas pemilu, tiba-tiba tidak ada yang mau mengaku itu gula miliknya. Padahal, gula itu tidak mungkin ada kalau tidak ada ORANG yang mengirim. Kecuali memang ada para HANTU yang mengirim

Jadi, memang, barangkali penduduk Lampung harus selalu menanggung malang. Mereka  harus lebih betah untuk hidup lebih lama lagi bersama ribuan hantu. Ialah, HANTU yang konon baik hati dan menjadi TUHAN bagi penghamba uang dan kedudukan…

Baca Juga: Kadal Mochi dari Negeri Rai Munyuk
Baca Juga: Karto Celeng Jadi Caleg
Baca Juga: Kota Berwajah Ruko
Baca Juga: Perempuan pun Tanpa Malu Minta Dicoblos
Baca Juga: Nomer Piro? Wani Piro?
Baca Juga: Kopi Tanpa Gula

Loading...