Beranda Headline Heboh Puisi “Ibu Indonesia” Karya Sukmawati Soekarnoputri

Heboh Puisi “Ibu Indonesia” Karya Sukmawati Soekarnoputri

4299
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Tidak ada puisi yang tiba-tiba begitu penting di Indonesia selain puisi berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri. Puisi itu menjadi heboh dan meriuhkan dunia maya karena video pembacaaan puisi yang dilakukan Sukmawati tersebar di medsos.

Pemicu kontroversi adalah pembandingan tusuk konde dengan cadar dan suara azan dengan kidung. Buah dari kontroversi itu, Sukmawati pun diadukan sejumlah pihak ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan menyebarluaskan isu SARA.

Puisi yang menghebohkan itu, lengkapnya seperti ini:

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surga

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya

Itu adalah puisi yang sangat biasa. Dari sudut pandang sastra, itu puisi sangat buruk. Buruk, karena karena gagal membangun sebuah kesatuan utuh sebagai puisi karena elemen pembangunya kurang kuat. Tidak ada permainan metafora yang ciamik. Tidak ada sublimasi. Tidak ada pula alunan bunyi atau musikalitas dalam baris-barisnya. Sukmawati ingin memakai bahasa kiasan, tetapi ia gagal. Akibatnya, puisi itu terlalu terang benderang dan jatuh sebagai slogan.

Sukmawati mungkin seorang yang mencintai seni dan suka puisi, tetapi ia tidak lantas pasti ahli dan bisa membuat puisi yang baik.Jika ia berposisi sebagai penyair, ia memang memiliki licentia poetica (hak penyair untuk mana suka membangun bahasa tanpa harus terikat pada aturan kebahsaan), tetapi kebebasan itu tidak lantas membuatnya ngawur untuk membuat puisi.

Puisi seharusnya adalah puisi, opini seharusnya juga opini. Ini juga yang menjadi titik lemah proses kreatif Sukmawati. Di media (detik.com) ia mengaku bahwa puisinya itu adalah opini bercampur karangan. Namun,ia menegaskan bahwa itulah puisi.

Penyair tidak berada di ruang hampa. Sebab itu, aneka pengalaman, pengamatan, refereni, inferens, dan seluruh pencerapan panca inderanya bisa dimanfaatkan untuk melahirkan puisi. Meski begitu, puisi yang baik tidak lahir berdasarkan reaksi atau respons langsung terhadap objek. Penyair harus  mengolah pengalaman, pengamatan, dan dan lainnya itu. Harus ada proses eksternalisasi (sering juga disebut eksteriosasi) sebelum akhirnya menginternaliasikan semua pengalaman dan -pengamatan.

BACA: Anjing dalam Cerpen Indonesia

Jika proses itu tidak dilalui,maka puisi akan sekadar sebagai protret terhadap objek tertentu. Alih-alih menjadi sebuah puisi yang bisa bersifat universal dan “dimasuki” pembaca dengan enak karena memberikan pengalaman estetis, puisi yang lahir berdasarkan aksi-reaksi terhadap objek bisa terjerembap sebagai keluh-keluh, ungkapan kemarahan, bahkan opini.

Itulah saya kira yang juga terjadi pada puisi “Ibu Indonesia” karya Sukmawati Soekarnoputri. Sampai di sini sebenarnya sudah jelas bahwa puisi buruk Sukmawati berjudul “Ibu Indonesia” tidak layak dibahas dalam jagad sastra Indonesia. Namun,persoalan menjadi lain ketika muncul penafsiran bahwa puisi itu punya tendensi melecehkan agama Islam,agama yang juga dianut oleh Sukmawati.Menjadi runyam ketika puisi itu hadir pada saat panas-panasnya tahun politik di Indonesia.

***

Puisi itu bahasa kalbu, kata sebagian orang. Maka itu, ia mestinya bersifat permenungan dan memberikan pencerahan. Puisi itu maknanya bisa multilapis, sebab itu pemaknaannya tidak akan pernah tunggal. Seribu pembaca puisi akan melahirkan seribu tafsir. Setiap pembaca puisi akan memiliki pemahaman, penafsiran, dan pengalaman puitis yang berbeda-beda.

Jauh sebelum bangsa Indonesia mengenal puisi, seorang penyair diyakini sebagai orang yang memiliki wahyu kenabian. Artinya, hanya orang-orang terpilih dan memiliki penguasaan bahasa yang sangat mumpunilah yang bisa menjadi penyair.

Bersamaan dengan makin majunya zaman, semua orang bisa mengambil bagian dalam barisan penyair.Bahkan, di zaman kiwari ini genre puisi bisa direkayasa sedemikan rupa asal si perekayasa memiliki banyak uang. Kepentingannya bukan lagi murni untuk puisi dan dunia sastra, tetapi untuk hal-hal lain di luar uruan sastra.

BACA: Membincangkan Puisi

Dalam labirin dunia seperti itulah dunia puisi kerap menjadi panggung bagi orang-orang tertentu dengan tendensi macam-macam. Sementara itu, dunia puisi dan sastra Indonesia itu sendiri pada dasarnya tetap dunia asing dan sepi. Buktinya, para penyair (betulan) hingga hari ini masih susah menjual buku-buku puisinya karena jarang yang membeli. Orang baru heboh menengok puisi ketika puisi dijadikan alat menyentil sana-sini dan kita merasa tersentil.

Pertanyaannya: apakah puisi itu salah? Nah ini: dalam puisi yang diuarkan itu indah dan tidak indah, bagus dan tidak bagus.Jadi bukan soal salah atau benar.

Seperti yang diuraikan di atas, setiap pembaca akan memiliki tafsir yang berbeda-beda terhadap sebuah puisi. Saya menilai puisi Sukmawati buruk, tetapi barangkali ada banyak orang yang menilai puisi bagus.

Penyair bukanlah orator atau agitator yang berniat menyulut kemarahan dan membakar sentimen agama karena perbedaan pilihan politik, aliran keagamaan, atau cara memahami kebangsaan. Sebab itu, saya tidak berani gegabah mengatakan Sukmawati seorang pendosa karena membandingkan ikon-ikon budaya Indonesia dengan ikon Islam.

BACA: Dialektika Sastra, Etika dan Ketuhanan

Loading...