Beranda News Lingkungan Kearifan Lokal di Balik Hamparan Hijau Repong Damar

Kearifan Lokal di Balik Hamparan Hijau Repong Damar

13224
BERBAGI
Repong damar dengan latar depan tanaman padi di Krui. (teraslampung.com/oyosshn)
Repong damar dengan latar depan tanaman padi di Krui. (teraslampung.com/oyosshn)

Oyos Saroso H.N.|Teraslampung.com

KRUI – Kaki Yati, 36, tampak lincah menaiki takikan pohon damar berdiameter sekitar 60 cm. Dengan bantuan seutas anyaman rotan yang diikatkan pada tubuh dan batang pohon damar, Yati mengeruk getah damar yang telah kering dari tiap cerukan dan memasukkan ke dalam keranjang yang terikat di punggungnya.

BACA: Repong Damar, Cara Orang Krui Melestarikan Lingkungan

Meskipun harus bekerja keras seperti halnya kaum lelaki, Yati, warga Desa Pahmungan, Kecamatan Pesisir Utara (beribu kota di  Krui), Kabupaten Lampung Barat termasuk perempuan beruntung. Sebab, ia mewarisi tak kurang dari dua hektare tanah yang ditumbuhi pohon damar. Dari pohon damar itulah Yati dan suaminya menghidupi keluarganya.

Setiap pohon, bisa menghasilkan 2-3 kg getah damar kering. Seorang penyadap yang sudah terampil seperti Yati dalam seharimnya bisa mendapatkan 60 kg  getah damar kering dari 100-an pohon. Getah damar itu kemudian dijual kepada pedagang pengumpul (pedagang tangan pertama). Satu pohon biasanya akan dipanen dalam kurun 2-3 minggu sekali.

Di Krui,  Kabupaten Pesisir Barat—terutama di Pekon Pahmungan—baik  pria maupun wanita, tua atau muda, sama lihainya memanjat pohon damar. Mereka sama-sama menjadi penyadap. Mereka sangat cekatan memanjat pohon untuk mendapatkan butiran- butiran getah damar.

Tak perlu keterampilan khusus bagi wanita di Krui untuk bisa menjadi penyadap getah damar. Dengan bekal ketahanan fisik dan kebiasaan, setiap hari para wanita Krui  memanjat pohon damar. Kaki penyadap getah damar harus kuat, karena selain harus memanjat pohon damar dia juga harus menempuh jarak jarak belasan kilometer menuju belantara damar. Perlengkapan lain yang biasa dibawa berupa keranjang, tali rotan dan alat pengeruk.

Setiap pagi  para penyadap berjalan kaki menembus hutan belantara damar. Setelah menemukan pohon yang siap disadap, penyadap akan segera membuat takikan di batang pohon damar. Takikan itu dibuat dari pangkal batang dan terus naik hingga menjelang puncak pohon. Beberapa hari kemudian, penyadap akan mengambil getah damar yang sudah mengering

Memanjat pohon damar hingga ketinggian 8-10 meter hanya dengan bantuan seutas tali rotan yang dililitkan di badan dan diikatkan di pohon damar merupakan hal yang biasa perempuan Desa Pahmungan. Dengan cara beginilah getah damar yang telah kering dipanen.

Yani, 38, seorang buruh penyadap dari Desa Pahmungan, mengaku sehari bisa memanjat  tiga pohon damar dan mengumpulkan  sekitar 6 kilogram getah damar kering. Namun jika sedang musim panen, dalam sehari Yani bisa memperoleh sedikitnya 50 kilogram dari 100 pohon yang dipanjatnya.

Para buruh penyadap biasanya mendapat jatah 1 kilogram dari tiap 3 kilogram getah damar kering yang di dapatnya. Memang, kini hampir tak ada lagi pemilik kebun damar yang menggarap sendiri kebun mereka. Kebanyakan pemiliknya sudah hijrah ke kota-kota besar.

BACA: Repong Damar Krui (Pernah) Terancam Aksi Illegal Logging

Kalaupun ada, umumnya lebih senang memanfaatkan tenaga buruh seperti Yani dan buruh penyadap lainnya, untuk menggarap kebun damar mereka, dengan sistem upah bagi hasil.

Perempuan Krui sehabis memanen getah damar.
Kearifan Lokal di Balik Hamparan Hijau Repong Damar

Getah-getah damar ini kemudian dibawa ke tempat penampungan tak jauh dari area penyadapan. Secara berkala tengkulak akan datang untuk membeli getah damar. Perkilogramnya dihargai Rp 3.500 rupiah. Selanjutnya getah damar ini diangkut ke bandar besar di Pasar Krui, kota kecamatan pesisir utara Kabupaten Lampung Barat. Dari sana getah-getah tersebut dikirim ke Bandarlampung atau Jakarta untuk kemudian diekspor.

Sepanjang  pesisir pantai utara Krui, puluhan ribu hektare pohon damar tampak menghijau. Repong damar–istilah -masyarakat setempat untuk menyebutnya kebun damar–itu menjadi sabuk hijau bagi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Repong damar yang sudah diusahakan penduduk setempat sejak abad 19 itu bukan saja menjadi penyangga kelestarian taman nasional, tetapi juga sebagai sumber kehidupan masyarakat setempat.

Damar mata kucing (Shorea Javanica) adalah jenis pohon yang ditanam penduduk pribumi suku Lampung sejak abad 19. Kebun damar yang dikelola oleh masyarakat saat ini sebagian besar warisan nenek moyang mereka, sebagian kecil lainnya merupakan  kebun muda yang baru dimulai ditanam kembali dan saat belum menghasilkan getah damar.

Data di Dinas Koperasi dan Perdagangan Lampung menyebutkan, 80% produksi resin damar Indonesia yang jumlah produksinya kurang lebih 10.000 ton per tahun berasal dari Pesisir Krui. Yang lebih menakjubkan lagi, hampir seluruh resin damar yang dihasilkan Pesisir Krui berasal dari keluarga Dipterocarpaceae (keluarga meranti) – terutama Shorea javanica – yang telah dibudidayakan oleh Masyarakat Pesisir Krui paling selama lebih dari 200 tahun.

Hutan-hutan alam Indonesia menghasilkan paling tidak tiga jenis resin :  terpentin (resin dari pohon jenis pinus), kopal (resin dari pohon jenis agathis), dan damar (resin dari pohon keluarga dipterocarpaceae).  Biasanya damar dianggap bermutu rendah dibandingkan dengan kopal atau terpentin. Namun, damar mata kucing – pada umumnya dihasilkan oleh Shorea javanica – mempunyai kualitas yang tinggi, sebanding dengan kopal dan terpentin.

Di antara 70 desa yang tersebar sepanjang Pesisir Krui ternyata hanya 13 desa (20%) saja yang tidak memiliki repong damar. Lebih dari separuh penduduk Pesisir Krui terlibat dalam produksi damar (pemilik repong, pedagang pengumpul, kuli angkut, pedagang besar damar, pengusaha angkutan, buruh sortir, dsb.).  Pada masa yang akan datang repong damar di Pesisir Krui akan semakin meluas

Darsan, 63, warga Pahmungan, mengaku sejak ratusan tahun lalu masyarakat pesisir Krui menggantungkan hidupnya dari getah pohon damar. Sebelum adanya eksploitasi lahan untuk kebun kelapa sawit, kata Darsan, kebun damar di Krui mencapai ratusan ribu hektare. Namun, seiring dengan pembukaan kebun kelapa sawit, areal lahan damar jadi berkurang dan konflik dengan perusahaan kelapa sawit sering terjadi.

“Sekarang warga sudah bersatu dan tak mau lagi  menjual kebun damarnya kepada perusahaan besar yang mau menanam kelapa sawit,” kata Darsan.

Kurniadi, fasilitator dari LSM LATIN, mengatakan kebun damar yang dibudidayakan masyarakat pesisir di Krui, Lampung Barat, merupakan bagian adat Lampung yang secara ekonomis sangat baik dan dapat menunjang kelestarian kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Wujud tradisi yang mendukung budidaya damar itu antara lain bagi masyarakat Pesisir Selatan, Krui, menganggap damar sebagai istri pertama. Dalam tradisi setempat diatur, bagi masyarakat yang mengalami perkawinan dan mempunyai anak, harus menyediakan bibit damar untuk ditanam.

Menurut Darsan, karena setia pada tradisi dan kesepakatan adat, seorang pemilih repong damar tidak akan semena-mena menebang pohon damar. “Satu pohon yang ditebang minimal harus diganti dengan  menanam sebatang pohon damar. Dengan begitu, repong damar akan tetap lestari dan terus menjadi warisan anak-cucu,” kata Darsan.

Untuk menjaga kelestariannya, warga tak pernah menebang pohon damar. Kalaupun ada yang roboh, itu disebabkan faktor alam, karena sudah tua dan rapuh atau karena hempasan badai.

Meski begitu, kelestarian kebun damar Krui menghadapi masalah serius seiring dengan alih fungsi lahan menjadi perkebunan inti rakyat (PIR) sawit sejak 1995 seluas 25.000 ha oleh PT Karya Canggih Mandiri Utama (KCMU).

Begitu pula SK Menhut No.47/Kpts-II/1998 tentang Kawasan dengan Tujuan Istimewa KDTI) yang diklaim negara sebagai wilayah hutan lindung dan hutan produksi terbatas (HPT) seluas 29.000 ha.

Sejumlah aktivis lingkungan dan peneliti yang pernah melihat langsung multiguna repong damar di Krui berpendapat tanpa pengendalian yang memadai, tatanan sistem pengelolaan repong damar oleh masyarakat di sana akan berubah.

Pohon damar  yang tumbuh di Krui merupakan jenis mata kucing, yang kabarnya jenis damar terbaik di Indonesia. Dari bertani damar, masyarakat setempat berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. Bahkan beberapa di antaranya berhasil menjadi pejabat daerah.

Tiap tahun, lebih dari 6 ribu ton getah damar kering dari Krui di ekspor. Pendapatan seluruh masyarakat Krui dari budidaya damar diperkirakan mencapai 21 milyar rupiah per tahun.

Sayangnya, damar mata kucing, kini menghadapi persoalan. Mulai dari makin panjangnya mata rantai penjualan, akan digantikan dengan kebun kelapa sawit, hingga beredarnya isu penggunaan resin sintetik untuk industri cat yang menjatuhkan harga damar.

Bagi warga pesisir Krui,  selain sebagai sumber kehidupan, repong damar mata kucing  merupakan bagian dari adat mereka yang akan terus dipertahankan karena memiliki nilai ekonomis dan historis yang tinggi. Warga pesisir Krui telah membuktikan bahwa melestarikan hutan secara adat jauh lebih bermanfaat ketimbang dengan mengusun slogan yang muluk-muluk.