Beranda News Lingkungan Repong Damar, Cara Orang Krui Melestarikan Lingkungan

Repong Damar, Cara Orang Krui Melestarikan Lingkungan

14818
BERBAGI
Menderes getah damar. (Foto: Ist/dok)
Menderes getah damar. (Foto: Ist/dok)

Oyos Saroso H.N. | Teraslampumg.com

KRUI – Matahari mulai bergeser ke barat. Dengan keranjang rotan di punggungnya, seorang lelaki berusia 30-an tahun menaiki pohon damar. Dengan bantuan seutas tali rotan yang diikat sehingga membentuk lingkaran, tubuh laki-laki itu begitu cepat melesat ke atas.

Baca: Repong Damar Krui (Pernah) Terancam Aksi Illegal Logging 

Tarikan kaki yang menginjak takikan pohon dan gerakan tangan yang mendekap pohon membentuk irama tetap. Tak lupa, di tiap takikan pohon laki-laki itu mengecek, apakah di situ sudah ada getah pohon yang sudah menggumpal. Kalau ada gumpalan getah yang sudah mengering, laki-laki itu akan memungutnya,lalu dimasukkan ke keranjang yang ada di punggungnya.

Itulah pemandangan sehari-hari yang terjadi di Desa Pahmungan, Kecamatan Krui (ibu kota Pesisir Tengah), Kabupaten Lampung Barat (kini masuk Kabupaten Pesisir Barat). Di Krui, tak hanya  kaum laki-laki yang terampil naik pohon damar untuk mengambil getahnya. Banyak juga perempuan yang pandai memanjat pohon damar.

Damar mata kucing (Shorea javanica)  merupakan pohon andalan warga Krui sejak ratusan tahun lalu. Gatah damar mata kucing merupakan bahan baku pembuat vernis, cat, tinta, dempul, dupa, kosmetik, dan lain-lain. Sejak zaman penjajahan  Belanda, damar mata kucing asal Krui sudah terkenal hingga mancanagara. Hingga kini, warisan turun-temurun itu masih tetap dijaga oleh anak keturunan pemilik kebun damar di Krui. Meskipun di sana-sini ada pembukaan areal lahan baru untuk persawahan dan perkenunan kelapa sawit, pohon-pohon damar itu tetap terjaga.

Jajaran pohon damar yang menghijau memenuhi kebun dan perbukitan, tampak lebih asri jika dilihat dari jalan raya. Kesan teduh akan segera dirasakan ketika memandang repong damar yang berdampingan dengan petak-petak sawah di tepi pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia itu.

Orang Krui menyebut kebun damar sebagai repong damar. Dalam hukum adat Krui, pohon damar tidak boleh ditebang sembarangan. Seseorang yang sudah menebang sebatang pohon harus membayar denda adat berupa keharusan menanam sejumlah pohon damar. Seorang calon pengantin yang hendak melangsungkan akad nikah pun diharuskan menanam pohon damar.

Sebagian  masyarakat Krui hingga kini masih meyakini pohon damar dapat diajak berbicara. Sejak dulu, para orangtua di Krui kerap berpesan pada anak-anaknya,”Kalau butuh biaya sekolah untuk anak-anakmu, bicaralah kepada pohon damar.”

Budayawan Lampung Anshori Djausal mengatakan, ujaran para nenek moyang orang Krui sebenarnya bukan bermakna denonatif. “Itu sebenarnya pesan agar anak keturunan orang Krui tetap memelihara pohon damar. Nyatanya memang benar, banyak orang Krui yang sukses karena bisa sekolah tinggi karena orang tuanya punya banyak pohon damar,” kata Anshori Djausal.

Faktanya, memang, repong damar telah menjadi sumber kehidupan bagi warga Krui. Setiap minggunya, para petani bisa mengambil getah damar. Setelah dikumpulkan dalam jumlah banyak, mereka akan menjualnya kepada para pengumpul.

Namun, bersamaan dengan maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit, pelaksanaan hukum adat itu pun mengendur. Pada akhir tahun 1980-an, banyak kebun damar berubah menjadi kebun kelapa sawit. Akhir-akhir ini ada juga pohon damar yang ditebang oleh pemiliknya. Oleh pembeli—biasanya cukong kayu ilegal yang mencuri kayu dari taman nasional—pohon damar itu dipotong-potong untuk dijadikan campuran kayu curian. Maksudnya, agar petugas pemeriksa bisa dikelabui.

Untunglah  masih ada masyarakat adat di Pahmungan yang tetap mempertahankan kebun damarnya. Selain warga Pahmungan, masih ada belasan desa lain di sejumlah kecamatan di Lampunh Barat yang juga mempertahankan tradisi sebagai petani damar.

Perempuan Krui, Pesisir Barat, terbiasa
Perempuan Krui, Pesisir Barat, terbiasa memanjat pohon damar untuk memanen getah damar,

Husin, 57, warga Desa Pahmungan, mengaku repong damar miliknya merupakan warisan dari orang tuanya yang sudah dimili sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Menurut Husin, sepetak kebun damar biasanya diwariskan kepada anak tertua. Anak yang mendapatkan kebun damar itu harus membuka lahan baru untuk dijadikan repong damar. “Makin luas repong damar yang dimiliki seseorang, status sosial orang tersebut makin tinggi,” kata Husin.

BACA: Kearifan Lokal di Balik Hamparan Hijau Repong Damar

Data di Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat menunjukkan, saat ini terdapat seitar 17.500 hektare repong damar di Lampung Barat. Umumnya, repong damar itu terdapat di daerah pesisir. Di areal seluas itu terdapat 1.750.000 pohon damar. Pohon-pohon damat itu ditanam di kebun-kebun penduduk. Produksi damar Lampung Barat  rata-rata 315 ton per tahun. Getah damar mata kucing tersebut banyak diekspor ke Uni Emirat Arab, Bangladesh, Pakistan, India, dan Italia.

Biasanya warga Krui tidak melulu memenuhi kebun damarnya dengan pohon damar. Di kebun damar biasanya juga ada pohon durian, duku, nangka, cempedak,petai, dan lain-lain. Kalau pengunjung beruntung—artinya datang ke Krui tepat pada musim durian—akan bisa menikmati indahnya lanskap alam berupa jajaran pohon damar dan indahnya Samudera Hindia sambil makan durian Krui yang lezat.

Kurniadi, aktivis lingkungan yang selama ini mendampingi para petani repong damar, mengatakan secara ekologis, keberadaan repong damar mempunyai nilai tinggi. Selain berfungsi sebagai daerah tangkapan air, repong damar juga dikenal sebagai daerah penyangga atau pelindung kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) untuk konservasi keragaman hayati.

Karena tatanan kehidupan adatnya yang mendukung kelestarian pohon damar, pada 1997 lalu pemerintah memberikan penghargaan Kalpataru kepada masyarakat Krui. Menurut Kurniadi, bagi masyarakat Krui sendiri, repong damar lebih dari sebuah mata pencaharian. “Ada ikatan yang kuat antara masyarakat Krui dengan repong damar. Damar menjadi jati diri mereka,” kata Kurniadi.

Repong damar di Krui selama ini dianggap oleh para aktivis lingkungan hidup dan peneliti sebagai contoh keserasian hidup manusia dengan alam. Selain mendapatkan penghasilan dari kebunnya, para pemilik kebun damar juga menjaga kelestarian alam. Menjaga kelestarian alam itu sendiri, sebenarnya bukanlah masalah yang mudah bagi warga Krui.  Tak sedikit warga Krui pemilik repong damar juga tergoda untuk menjual kebunnya untuk menggelar pesta atau membeli alat-alat kebutuhan modern.

Zulfaldi, salah seorang pengurus Persatuan Masyarakat Pemilik Repong Damar (PMPRD), mengaku jika tidak ada pembinaan, repong damar di Lampung Barat berpotensi terancam kelestariannya. “Masuknya budaya modern, mau tak mau membuat para pemuda di Krui memilih bekerja di dunia industri ke kota besar. Akhirnya, repong damar pun ditinggalkan,” kata Zulfaldi.

Zulfaldi mengaku saat ini sedang berupaya menjalin kerjasama dengan lembaga penelitian untuk meningkatkan kualitas damar sehingga bisa mendongkrak harga getah damar. “Kami sedang mencoba untuk  meningkatkan nilai jual getah damar melaui proses pemurnian damar yaitu
penghancuran kembali getah-getah yang grade-nya rendah untuk kemudian dicetak kembali sehingga mempunyai ukuran yang lebih besar,” ujarnya.

Hasil penelitian CIFOR (Center for International Forestry Research) tahun 2004 menunjukkan bahwa dengan harga jual damar rata-rata sekitar Rp 4.000 / kg, petani damar bisa memperoleh penghasilan rata-rata sebesar Rp 10 juta per tahun. Dengan masa panen yang berlangsung sepanjang tahun, kebun damar dapat menjadi sumber pendapatan yang cukup bagi pemilik repong damar.

Penghasilan itu belum termasuk dari pohon-pohon yang juga ditanam di kebun, seperti durian, petai, nangka, duku, dan cempedak. Itulah sebabnya, di perkampungan yang memiliki banyak repong damar, sulit ditemukan warga miskin.

Alipin Nur, 63, petami damar di Desa Pahmungan harga damar mata kucing itu pernah tingi. Sekitar tahun 1998, kata dia, harga damar jenis mata kucing mencapai Rp8.000-an per kilogram.

Saat ini (Mei 2014) damar lumayan bagus, berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu/kg. Itu adalah damar asalan yaki damar yang baru diunduh dari kebun, belum disortir atau dipisahkan antara debu, getah, dan kayu damar.

Mahalnya harga damar membuat getah damar yang sudah dideres pemilik kebun damar tidak aman. Maklum, para pencuri yang juga lihai naik pohon damar itu hampir tiap malam berkeliaran di sekitat kebun damar untuk mencuri getah damar.

Baca Juga: Kearifan Lokal di Balik Hamparan Hijau Repong Damar