Beranda News Bandarlampung Keranjang Takakura, Solusi Perempuan Pesisir Bandarlampung Atasi Masalah Sampah

Keranjang Takakura, Solusi Perempuan Pesisir Bandarlampung Atasi Masalah Sampah

310
BERBAGI
Keranjang Takakura hasil karya anggota JPrP
Keranjang Takakura hasil karya anggota JPrP

TERASLAMPUNG.COM – Jika  Anda bertamu ke rumah warga Sukaraja, Bandalampung, jangan heran jika di salah satu sudut rumah warga akan terlihat dua buah keranjan plastik ukuran besar. Itu bukanlah pajangan, tetapi tempat sampah. Tempat sampah itu ada dua: satu untu sampah organik,saunya lagi berisi sampah anorganik.

Sejak tujuh tahun lalu warga di sekitar Sukaraja dan kawasan Panjang, Bandarlampung memang merintis usaha pengolahan sampah secara baik. Hal itu dilakukan mulai dari rumah-rumah warga. Para penggiatnya bukanlah kaum lelaki, tetapi para ibu dan remaja putri yang tergabung dalam Jaringan Perempuan Pesisir (JPrP).

Pada 2008, para anggota JPrp mulai berlatih membuat keranjang yang disebut sebagai keranjang Takakura. Namanya lumayan keren, seperti nama Jepang. Dan, memang, keranjang itu pertama kali dikenalkan oleh Tuan Koji Takakura, seorang peniliti dari Jepang.

Keranjang Takukara yang dikembangkan JPrP diadopsi dari Kota Surabaya. Keranjang Takakura merupakan alat pengomposan skala rumah tangga hasil temuan Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan  (Pusdakota) Universitas Surabaya dan Kitakyusu International Techno-cooperative Association, dan Pemerintahan Kitakyusu Jepang pada tahun 2005. Keranjang ini merupakan hasil penelitian dari seorang ahli bernama Mr. Koji Takakura dari Jepang.

BACA: Cara Membuat Keranjang Takakura

Keranjang Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di dalam rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang “sakti” karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam Keranjang Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada Keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau, dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan Keranjang Takakura. Makanya, tak mengherankan jika para ibu di Surabaya sejak beberapa tahun terakhir sudah mengembangkan alat ini. Di Lampung baru para ibu-ibu di daerah pesisir di Kota Bandarlampung yang merintisnya.

Para ibu di Kecamatan Panjang,Bandarlampung, belajar membuat Kerangjang Takakura
Para ibu di Kecamatan Panjang,Bandarlampung, belajar membuat Kerangjang Takakura

Berkat sosialisasi yang sering dilakukan JPrP, ibu-ibu rumah tangga di Kecamatan Panjang Kota Bandarlampung kini sudah terbiasa mengolah sampah sendiri dengan Keranjang Takakura. Bahkan, kini sudah ada ratusan ibu rumah tangga yang bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari usahanya mengelola sampah dengan Keranjang Takakura.

“Sambil mengolah sampah menjadi kompos dengan Keranjang Takakura, kini banyak ibu rumah tangga di Kecamatan Panjang yang membuat kerajinan dari sampah daur ulang. Sampah bungkus rokok, misalnya, dibuat asbak dan  kerajinan bunga untuk dijual. Kompos hasil pengolahan juga mereka jual seharga Rp 15 ribu/kg,” kata Ketua JPrP, Nurhayati.

Di Kota Bandarlampung, Keranjang Takakura kini juga mulai dikembangkan oleh  Keluarga Pencinta Alam dan Lingkungan (Watala). Direktur Watala Rini Pahlawanti mengatakan Keranjang Takakura bisa menjadi solusi bagi problem kebersihan di perkotaan. “Kami sudah melatih puluhan ibu rumah tangga dan aktivis lingkungan untuk membuat Keranjang Takakura. Selain bisa membuat Keranjang Takakura, kami berharap para ibu rumah tangga itu bisa menjadi relawan untuk menyosialisasikan cara pengelohan sampah yang murah dengan Keranjang Takakura,” kata Rini.

Dengan jumlah penduduk 817.605 jiwa, produksi sampah di Kota Bandarlampung tiap harinya mencapai 2.000 meter kubik. Sementara tingkat pelayanan pengumpulan dan pengangkutan masih di bawah 60 persen. Sampah yang tidak terangkut ditumpuk, dibakar, dibuang ke sungai dan dipendam, menyebabkan penyebaran penyakit, bau, asap berbahaya, dan banjir.

Kota Bandarlampung sampai saat ini hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir sampah (TPA), yaitu TPB Bakung, seluas 14 hektare. TPA yang mulai beroperasi sejak 1992 itu memiliki kapasitas tampung 246.906 meter kubik.

“Banjir yang sering terjadi di Kota Bandarlampung terbukti bersumber dari sampah yang menumpuk di sungai. Dengan makin populernya Keranjang Takakura kami berharap tiap rumah tangga tidak terlalu bergantung pada petugas pembuang sampah karena mereka bisa mengelola sampah sendiri,” kata Rini.

Menurut Rini, bersama para aktivis NGO lingkungan lainnya pihaknya akan mengusulkan kepada Walikota Bandarlampung agar Keranjang Takakura dijadikan alternatif pengolahan sampah secara missal. “Maksudnya, harus ada kebijakan dari Walikota untuk mengimbau semua warga kota juga ikut mengembangkan Keranjang Takakura. Keranjang Takakura terbukti bisa mengatasi problem sampah dengan modal kecil,” ujarnya.

Rama Pandu/Dewira
Loading...