Beranda Views Kisah Lain Kisah Si Tukang Kecrek (2)

Kisah Si Tukang Kecrek (2)

3619
BERBAGI
Gedung Perspustakaan STF Driyarkara (dok driyarkaralibrary.com)

Oyos Saroso HN

Beberapa semester kami kuliah di situ. Perkuliahannya lumayan ‘gayeng’ dan segar. Apalagi kalau yang mengajar Pak Alex Lanur dan Romo Franz Magnis Suseno. Joke-joke segar Pak Alex Lanur membuat kami terhibur.

Saat istirahat, mahasiswa bisa menikmati makanan kecil dan minuman ringan. Makanan dan minuman itu tidak ada yang menjual. Cuma ditaruh di meja begitu saja. Di sampingnya ada sebuah kotak warna cokelat. Yang berminat makan atau minum diperbolehkan mengambil dan menaruh uang sesuai harga yang dicatat di daftar. Pembeli juga disilakan mengambil uang kembaliannya sendiri dari uang yang ada di kotak itu. Tak ada orang yang mengawasi. Cuma Tuhan dan pembelilah yang tahu apakah pembeli jujur atau tidak…

Saya jadi makin keranjingan membaca buku-buku filsafat. Saya dan si jangkung sering jalan bersama untuk mencari buku-buku filsafat. Kami juga sering menenggelamkan diri dalam sunyi di antara susunan buku-buku filsafat di perpustakaan STF Driyarkara.

BACA: Kisah Si Tukang Kecrek (1)

Kami berdua melakukan proses dialog bukan hanya dengan keakraban seorang kawan dengan diskusi di kantin atau perpustakaan. Kami juga berdialog layaknya dua filsuf. Pokoknya sok filsuflah….

Dialog biasanya kami lakukan lewat surat-menyurat: saya mengantarkan atau mengirim surat lewat pos berisi pemikiran saya. Surat kemudian akan dibalas dengan surat dengan bahasa sastra dan filsafat. Tulisan kami biasanya panjang-panjang dengan bahasa yang diindah-indahkan. Temanya beragam. Mulai dari hal-hal besar sampai yang remeh-temeh.

Banyak hal kami bahas dari sudut pandang filsafat. Yang paling sering membuat saya tersenyum adalah ketika membaca suratnya yang berkisah tentang perempuan dan kemiskinan. Ya, kami menertawakan kemiskinan kami sendiri. Dia sering berkisah tentang perempuan pujaannya yang cuek bebek dan tak segera menanggapi cintanya. Juga tentang hari-harinya yang terancam karena kiriman uang dari kampung tak kunjung datang.

Pada sampul suratnya biasanya tertera nama pengirim sebagai “Rokhmat Prabu”. Sering juga dia memakai nama “Rokhmat Pandowo”. Sementara sampul balasan surat saya biasanya saya memakai nama Raden Aji Pameling.

Tentang gadis pujaannya yang tak lain adalah anak ibu kosnya, saya pernah bertanya.

“Apakah dia sepertinya mencintaimu?”

“O jelas! Bukan sepertinya lagi. Tapi pasti dia mencintaiku. Saya bisa melihat dari bahasa tubuhnya!”

“Ah, kamu ge-er barangkali… Pernah mengetes dia untuk mendapatkan kepastian?” tanya saya.

“Pokoknya dia pasti mencintai saya dan saya tinggal mengiyakan saja. Tapi saya belum mau menerima cintanya kalau dia belum memanggilku dengan sebutan ‘Mas Rokhmat’!”

“Kok bisa begitu?”

“Lha iya! Mosok semua kawan saya di kosan itu dipanggilnya dengan sebutan ‘Mas’, sedangkan saya dipanggil namanya saja! Apa bedanya saya dengan mereka? Itu tidak benar! Sebelum dia memanggilku dengan panggilan ‘Mas’ di depan nama saya, saya tidak akan membalas cintanya…”

Saya heran. Dulu dia yang mengharap cinta si gadis pujaan. Giliran cintanya diterima, ia tidak begitu saja mau menerima cinta gadis itu hanya gara-gara sebutan “Mas”….

Begitulah….kami sering bertukar pikiran tentang kehidupan—juga perempuan—di mana saja: di tempat kos, di kantin, di taman kampus, atau saat kami jalan-jalan.

Oh ya, dia dan Ukim selalu tersenyum dan menatap saya tiap kali kami jalan bertiga. Mereka seolah tahu bahwa saya akan mengatakan,”Wah, gadis itu harus diselamatkan nih….”

BACA: Kisah Si Tukang Kecrek (3)

Loading...