Beranda Views Kisah Lain Kisah Si Tukang Kecrek (3)

Kisah Si Tukang Kecrek (3)

3517
BERBAGI
Ini cara saya makan siang atau makan malam pada awal dekade 90-an. Sehabis melatih drama, para yunior menyiapkan nasi bungkus dan segelas kopi. Lalu, kami makan siang atau makan malam bersama di depan eks gedung Teater Sastra UI Rawamangun.

Oyos Saroso HN

Mahasiswa tinggi langsing yang berhasil meracuni saya itu tak lain adalah Rokhmat. Kawan-kawannya ada yang memanggilnya Rahmat. Nama Pandowo di belakangnya merupakan nama desa di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Posturnya lumayan tinggi. Saya yang tingginya 170 cm kalau sama-sama berdiri kepala saya hanya sebatas telinganya. Artinya, tinggi Rokhmat sekitar 178—180 cm.

Berbeda dengan saya yang berkulit gelap, kulit Rokhmat kuning langsat. Wajahnya selalu bersih. Rambutnya tak selebat rambut saya, tetapi selalu disisir rapi. Berbeda dengan saya yang berangasan, dia tampak lembut. Bicara seperti ditata dengan rapi, Jalan pun seperti diatur.

Perkawanan kami makin akrab ketika pada 1994 saya diminta jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta untuk menyutradarai pementasan teater untuk Festival Teater Mahasiswa di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya sebenarnya menolak permintaan itu karena tahun itu targetnya saya harus sudah lulus S1 (saya alih program ke S1 pada 1992).

Setelah ‘dirayu’ beberapa kali oleh Ibu Sri Suhita akhirnya saya mau menerimanya. Saya pikir, hitung-hitung saya balas jasa kepada pihak jurusan (terutama ketua jurusan, Pak Soenarko) yang berjasa besar kepada saya. Pak Soenarko adalah pejabat jursan yang merekomendasikan saya kepada rektor untuk langsung melanjutkan kuliah S1 tanpa saya harus mengajar selama dua tahun seperti kawan-kawan alumnus D3 lainnnya.

BACA: Kisah Si Tukang Kecrek (1)

Nah, karena Rokhmat ke mana-mana sering bersama denganku,Rokhmat pun kuminta jadi salah satu pemainnya. Selain Rokhmat, kawan satu angkatan (angkatan 1988) dan satu geng yang ikut main adalah Nur Zain (Zen Hae). Selebihnya adalah adik-adik kelas yang angkatannya terpaut jauh. Ukim Komarudin siap jadi produser, Iwan Gunadi dan Mustopa jadi tukang cari dana. Meskipun tak ikut main, Iwan, Ukim, dan Mustopa hampir selalu datang tiap kami latihan di halaman belakang Gedung Daksinapati. Kami pentas dengan bendera Teater Zat, mementaskan naskah “Yang Berumah di Atas Angin” berdasarkan naskah yang prosesnya saya buat saat latihan.

Rokhmat Pandowo. Dulu penah jadi tukang kecrek pementasan drama di kampus IKIP Jakarta. Lulus IKIP dia tidak menjadi guru, tetapi masuk Wamil. Ia kini perwira Angkatan Udara.

Tahun 1994—1996 senior-senior dan guru teater kami di jurusan seperti Mas Ning, Cak Joko, dan Mas Edi sudah tak ada di kampus. Ukim, Nur Zain, Iwan Gunadi, Rokhmat, Heryanto, Fahrizal, Mas Shobir Poer sudah lulus. Praktis di bidang sastra dan teater di jurusan, sayalah menjadi ‘paling senior’. Saya sering diminta adik-adik kelas atau para ibu-bapak guru yang hendak ujian mata kuliah drama melatih mereka.

BACA: Kisah si Tukang Kecrek (2)

Tahun-tahun itu sebenarnya masa-masa produktif saya menulis di koran, sehingga tidak miskin-miskin amat. Honor satu tulisan esai ketika itu Rp 150 ribu—175 rbu, beberapa puisi di Media Indonesia dan Republika berkisar Rp 150 ribu—Rp 200 ribu, sementara uang SPP hanya Rp 100 ribu/semester dan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng di warjok hanya seribu perak. Saya sudah bisa nraktir kawan-kawan, termasuk Rokhmat kalau pas kiriman uang dari kampungnya telat.

Tawaran menyutradarai (juga jadi juri pementasan) tak bisa saya tolak. Saya tak pernah menawar berapa saya harus dibayar. Kalau ada kelompok yang memberi uang ya terima kasih. Tidak pun tidak apa-apa. Yang penting mereka tidak lupa segelas kopi saat saya melatih.

Pada masa-masa itulah saya sering mengajak Rokhmat membantu saya menggarap teater. Misalnya menata lampu atau membuat efek musik.

“Cuma mukul-mukul kaleng, kecrek, dan botol kosong dikasih sebungkus nasi?” tanya Rokhmat, saat membuka nasi bungkus seusai sebuah pementasan ujian mata kuliah drama.

“Ya….inilah rejeki. Ayo kita makan….” kata saya.

Kami pun makan bersama para pemain yang kelompoknya saya sutradarai.

BACA JUGA: Kisah Si Tukang Kecrek (4)