Beranda Politik Komisi II DPRD Lampung Minta Polda Tangkap dan Bongkar Mafia Penimbun Gula

Komisi II DPRD Lampung Minta Polda Tangkap dan Bongkar Mafia Penimbun Gula

918
BERBAGI
Ketua Komisi II DPRD Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi

TERASLAMPUNG.COM — Ketua Komisi II DPRD Lampung Wahrul Fauzi Silalahi mengaku kecewa dengan kinerja Pemerintah Provinsi Lampung. Pasalnya, Mabes Polri menemukan adanya pengusaha di Lampung yang menimbun gula, bahkan hingga 100 ton.

BACA: Soal Penimbunan Gula oleh Perusahaan Besar di Lampung, Ini Kata Mabes Polri

“Kita akan segera panggil dinas terkait yang membidangi masalah itu. Kekhawairan kami (Komisi II) akhirnya terbukti, jika memang benar ada aksi penimbunan gula di Lampung,” tegas Wahrul, Kamis, 19 Maret 2020.

Wahrul mengatakan, kelangkaan gula dan harga gula yang melonjak menjadi fakta ironi di Lampung. Sebab, kata Wahrul,  di Provinsi Lampung terdapat lebih dari tiga pabrik gula baik milik pemerintah maupun swasta, yang selama ini berkontribusi sekitar 35 persen untuk kebutuhan gula nasional.

“Jadi kalau gula langka itu aneh. Sebab, Lampung ini gudangnya gula,” papar politisi Partai NasDem ini.

Ia menuding, kelangkaan gula pasir di pasar karena permainan mafia yang sengaja menimbun.

“Mereka paham betul prediksi permintaan pasar meningkat menjelang bulan Ramadhan dan lebaran. Ini kan membuat kacau,” imbu mantan Direktur LBH Bandarlampung ini.

Wahrul meminta Gubernur Lampung Arinal Junaidi segera turun tangan terkait banyaknya kasus penimbunan pangan seperti gula pasir dan bawang putih serta bahan pokoknya lainnya.

“Komoditas pangan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak jangan sampai dipermainkan. Bagaimana Lampung mau Berjaya, mengurus kebutuhan dasar masyarakat saja belum jelas,” keluhnya Wahrul.

Selain mempertanyakan kinerja pemerintah daerah, Wahrul juga mendesak Polda Lampung untuk segera mengusut dan menangkap mafia gula yang menimbun gula di Lampung.

“Apa pun alasannya, aksi penimbunan gula tidak dibenarkan. Kami minta Polda Lampung segera menangkap dan mengusut tuntas aksi penimbunan gula ini,” tegasnya lagi.

Diketahui, indikasi meroketnya harga dan kelangkaan gula lantaran aksi penimbunan, terbukti setelah Mabes Polri melakukan sidak ke beberapa pabrik gula di Lampung.

“Kemarin kita sidak di Lampung dapati beberapa perusahaan yang memiliki stok besar sekali antara 75 ribu-100 ribu ton gula dan itu tidak terdata di kita. Untuk itu kita minta koordinasi dengan Pemda (Pemerintah daerah) untuk dikirim ke Jakarta,” kata Kepala Bareskrim Polri Polri Irjen Listyo Sigit, setelah melakukan pantauan langsung di Food Station Tjipinang Jaya, Kompleks Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Rabu (18/3/2020).

Menurutnya, setidaknya ada dua perusahaan besar produsen gula di Lampung yang memiliki stok besar sekali, kurang lebih 75 ribu sampai 100 ribu ton.Gula itu ditemukan di gudang mereka oleh Mabes Polri, Selasa lalu (17/3/2020).

Irjen Listyo mengatakan, seharusnya stok gula sudah ada untuk April dan Mei, tapi akhir-akhir ini muncul kelangkaan di Jakarta dan Lampung. Kelangkaan gula juga kemungkinan besar terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia.

Loading...