Beranda Pendidikan Iptek Kontroversi Gas untuk Mengisi Balon

Kontroversi Gas untuk Mengisi Balon

6243
BERBAGI
Balon dengan gas helium produksi Aneka Balon, sebuah perusahaan yang melayani pemesanan balon gas di Jakarta.

TERASLAMPUNG.COM — Meninggalnya  penjual balon gas karbit di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pringsewu, Kisruh (42 tahun), pada Senin pagi (27/3/2017) masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan keluarga besar MAN 1 Pringsewu.

Kisruh meninggal secara mengenaskan: tubuhnya hancur karena ledakan tabung karbit.

BACA: Tabung Karbit Meledak, Tukang Balon Tewas dengan Kepala Putus

Tidak ada saksi mata yang bisa menjelaskan kenapa tabung karbit itu meledak dan membuat Kisruh tewas seketika. Polisi masih menyelidiki ihwal musibah yang menyisakan duka mendalam dan keprihatinan masyarakat Pringsewu itu.

Gas Karbit yang Berbahaya

Kisruh hanyalah satu di antara beberapa korban ledakan tabung karbit pengisi balon. Di dunia internasional, sudah lama terjadi perdebatan pengisian balon dengan gas karbit atau gas asetilen ini. Selain berbahaya — karena mudah meledak di saat berdekatan dengan api — gas karbit juga termasuk bahan yang langka. Padahal, kalaiu kita mau aman sebenarnya bisa mengisi balon dengan gas agar bisa terbang, yakni dengan uap yang diciptakan dari soda kue (baking soda). Memang jadi lebih mahal, tetapi jauh lebih aman.

Apa itu karbit? Karbit adalah sebuah senyawa kimia dengan rumus kimia CaC2. Senyawa murninya tidak berwarna, tetapi kalsium karbida yang biasanya digunakan warnanya adalah abu-abu atau coklat dengan kandungan CaC2 hanya sekitar 80-85% (sisanya adalah CaO, Ca3P2, CaS, Ca3N2, SiC, etc.). Selain itu, karena adanya kandungan PH3, NH3, and H2S, maka senyawa ini juga berbau menyengat.

Karbit utamanya digunakan di bidang industri, yakni h untuk pembuatan asetilena dan kalsium sianamida. Karbit juga digunakan untuk proses las karbit, mempercepat pematangan buah, dan mengisi gas untuk balon.

Pakar kimia organik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Didin Mujahidin, mengatakan karbit adalah nama dagang dari kalsium karbida. Jika bereaksi dengan  air karbit akan menghasilkan asetilen (bukan gas hidrogen). Gas asetilen bisa juga digunakan sebagai gas pengisi balon. Namun, kata Didin, asetilen mudah sekali terbakar sehingga  harus dijauhkan dari api.

Seperti dimuat di koran  yang terbit di Bandung, Pikiran Rakyat, pada 19 Maret 2015, Didin mengatakan bahwa hidrogen dapat diperoleh dari CaH2. Zat ini sangat reaktif, mahal dan tidak mungkin diaplikasikan mengisi balon.

“Kalaupun mau membuat balon hidrogen, biasanya dibuat dengan mereaksikan alumunium dengan sodium hidroksida. Gas hidrogen dan asetilenlebih mudah terbakar jadi jauh lebih berbahaya untuk dijadikan balon bagi anak-anak,” katanya.

Gas Pengisi Balon

Selama ini banyak orang mengisi balon dengan gas helium, gas nitrogen, dan gas asetilen. Sayangnya, gas itu sebenarnya lumayan mahal dan berbahaya.

Seorang dokter anestesi di Inggris, dr Tom Dolphin, pada Mei 2016 lalu mengatakan  penggunaan balon gas berisi helium sebagai pemborosan kolosal. Gas yang ketersediaannya di alam relatif terbatas ini dipakai juga untuk keperluan medis.

Menurut dr Dolphin, helium dipakai dalam pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging). Gas paling ringan kedua setelah hidrogen tersebut juga digunakan sebagai campuran oksigen untuk mengatasi kesulitan bernapas di rumah sakit.

“Gas yang tak ternilai, dan tidak tergantikan ini benar-benar diberikan pada anak-anak dalam bentuk balon sehingga mereka terhibur untuk beberapa menit sampai akhirnya bosan dan dilepas,” kata dr Dolphin seperti ditulis Mirror, 26 Mei 2016 lalu.

Bisakah Mengisi Balon tanpa Gas Berbahaya?

Pada acara istimewa tertentu — misalnya pesta ulang tahun, peresmian proyek, dan perpisahan sekolah — pelepasan balon ke udara sering dilakukan. Balon tidak hanya menjadi mainan menarik bagi anak-anak. Orang dewasa pun kerap memerlukan balon saat ingin agar acara peresmian proyek tertentu berlangsung meriah.

Karena pada acara besar biasanya balon yang dibutuhkan sangat banyak, memesan balon kepada penjual balon gas  memang dirasa lebih praktis. Bahkan mungkin bisa dikatakan murah meriah. Panitia tidak perlu repot-repot, tukang balon akan menyediakan balon sebanyak yang dipesan.

Namun di balik itu semua sebenarnya ada bahasa yang mengintai. Gas karbit yang disimpan di dalam tabung bisa saja menjadi bencana berupa ledakan jika tabungnya bocor dan berdekatan dengan api.

Sebenarnya ada cara membuat balon gas yang bisa mengangkasa tanpa membahayakan manusia. Yakni dengan memanfaatkan baking soda (soda kue). Namun, ini perlu ketelatenan dan kalau dibanding dengan pesan balon kepada tukang balon karbit harganya akan lebih mahal.

Dewi Ria Angela

 

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaKisah Tragedi Tabung Karbit Meledak yang Menewaskan Penjual Balon di MAN 1 Pringsewu
Artikel berikutnyaLampung mangroves could be extinct in 5 years: Activist
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya