Beranda Views Inspirasi Penjual Ikan Ini Mengubah Bilah Bambu Jadi Miniatur Pinisi Bernilai Tinggi

Penjual Ikan Ini Mengubah Bilah Bambu Jadi Miniatur Pinisi Bernilai Tinggi

1917
BERBAGI

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Banyak orang mengira bambu tak memiliki daya ekonomis dan bernilai tinggi. Namun, di tangan Dody Hardiansyah,  warga Dusun Buatan, Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan anggapan itu tidak benar. Pria 27 tahun yang sehari-hari berjualan ikan di desanya ini mengubah bilah-bilah bambu menjadi karya kerajinan berharga lumayan mahal.

BACA: Uniknya Miniatur Kapal Pinisi Bambu Karya Warga Lampung Selatan

Dody memanfaatkan bambu untuk dibuat kerajinan miniatur kapal pinisi yang unik. Selain warga Lampung, peminat karya Dody berasal dari manca negara.

Dody bukanlah lulusan sekolah khusus yang mempelajari seluk beluk kerajinan. Namun, sebagai orang desa, bapak satu anak ini sejak kecil memang sudah mengenal dengan dekat pohon bambu. Dengan bakal alamnya, Dody pun mengasah keterampilan sembari terus belajar. Untuk model kapal pinisi, ia mengunduhnya secara gratis dari internet.

Kenapa bambu dan bukan kayu? Dody punya alasan tersendiri. Menurutnya, bahan baku miniatur dari bambu paling efesien, murah, dan mudah dibentuk. Alat-alat yang digunakan untuk membuat miniatur pinisi pun  terbilang sederhana. Antara lain gergaji, golok, pisau cutter, tali nilon dan lem perekat alteco.

Soal lama pembuatan, Dody mengaku setidaknya perlu waktu tiga hari untuk merakit miniatur ukuran kecil.

“Untuk ukuran sedang perlu dua minggu. Kalau besar ya kira-kira dua minggu bisa kelar,” katanya.

Dari hasil karya pertama Dody, ada 14 miniatur yang sudah dibuatnya. Di antaranya adalah 10 minitur kapal pinisi, dua miniatur rumah adat minang (gadang) dan dua miniatur jenis sepeda. Semuanya itu, sudah laku terjual dengan harga bervariasi mulai dari harga Rp 150 ribu hingga Rp 700 ribu.

Meski belum lama menekuni kerajinan itu, jerih payahnya berbuah manis. Tidak disangka, hasil kerajinan miniatur yang dibuatnya menarik perhatian peminatnya. Bahkan bari-baru ini, hasil kerajinan miniatur kapal pinisi karyanya diminati oleh wisatawan asing asal Australia.

Wisatawan asing itu sempat berkunjung ke rumahnya melihat langsung proses pembuatannya dan langsung memesannya untuk dibawa pulang ke negaranya sebagai cinderamata.

Dody menceritakan, menggeluti kerajinan tangan membuat miniatur kapal pinisi bambu, baru ditekuninya tiga bulan belakangan ini. Ide awal membuat miniatur kapal, tercetus ketika dirinya berkeliling jual ikan di desanya dan melihat banyaknya pohon bambu yang ada belum maksimal pemanfaatannya. Dari situlah, ia mulai mencoba mempelajari membuat kerajinan dari bambu.

Setelah dipelajari, ia mencoba mengerahkan kemampuannya membuat miniatur kapal pinisi meski hanya secara otodidak. Selepas pulang berjualan ikan, Dody membuat kerajinan miniatur kapal pinisi dengan tekun. Ia berusaha keras agar karyanya bagus, detail, dan rapi sehingga berkualitas dan memiliki nilai jual di pasaran.

“Saya tidak belajar ke mana-mana. Otodidak saja. Supaya hasilnya lebih bagus, saya  lihat di Youtube. Dari Youtube pula saya bisa melihat dan belajar detail kapal pinisi itu seperti apa,”ujarnya kepada teraslampung.com, Minggu (19/1/2020).

Bapak satu anak ini menuturkan, hasil kerajinannya tersebut, pemesannya ada yang di seputar wilayah Lampung Selatan dan di Bandarlampung. Selain itu juga, pemesannya ada diluar daerah lampung yakni di Jakarta.

“Pernah ikut event pameran yang diadakan Sampoerna Mild, saat itu saya mengeluarkan dua minitur kapal pinisi dan satu unit rumah adat minang (gadang),”ucapnya.

Bahkan belum lama ini atau sekitar dua minggu lalu, kata Dody, kerajinan miniatur kapal pinisi bambu karyanya itu, diminati oleh wisatawan asal Australia yang saat itu sedang berwisata dan menginap di Vila Suak Sumatera Resort.

“Ada enam wisatawan asal Australia bersama pemilik vila datang ke rumah saya, mereka ingin melihat langsung kerajinan miniatur kapal pinisi bambu yang saya buat. Mereka bilang, kalau Kerajinan yang saya buat bagus dan unik. Lalu dua minitur kapal pinisi yang sudah selesai saya buat, dibeli oleh mereka untuk dibawa pulang ke negaranya sebagai cinderamata,”ungkapnya.

Tidak hanya itu saja, kata Dody, bahkan wisatawan asing asal Australia itu berencana memesan lagi untuk dibuatkan miniatur kapal pinisi dengan ukuran yang sama dibawa pulang mereka ke negaranya.

“Wisatawan asing ini, minta dibuatkan satu niniatur kapal pinisi lagi. Tapi bentuk kapal pinisi yang dipesan, mau dikirim memalui photo. Kalau sudah jadi, nanti pesenannya mau diambil sama Mr Greg, pemilik Villa Suak Sumatera Resot,”terangnya.

Dody mengaku sebenarnya ia sudah menyukai kerajinan sejak dulu saat masih sekolah di SMK Yaditama. Selepas lulus sekolah tahun 2013, ia bekerja di Bandarlampung sebagai Satpam Bank Lampung selama satu tahun (2014).

Setelah berhenti bekerja dan hidup berumah tangga, barulah muncul adanya ide membuat kerajinan lagi.

Kerajinan yang dibuatnya, lanjut Dody, tidak hanya miniatur kapal pinisi. Dody juga membuat miniatur rumah adat Minang (rumah gadang) dan miniatur sepeda.

Dody mengaku, menggunakan bahan baku bambu hitam atau bambu betung untuk membuat kerajinan miniatur. Alasannya, bambu hitam kualitas dan sifatnya bagus serta dapat bertahan lama.

“Bambu yang saya dijadikan bahan miniatur kapal pinisi, harus bambu yang sudah tua. Hasil kerajinan miniatur yang saya buat ini, tidak diberi pewarna (cat) tapi saya beri pelapis pernis agar kemurnian warna bambu tetap terjaga seperti aslinya,”pungkasnya.

Kepala Desa (Kades) Suak, Juli Wahydudin (40), mengaku bangga ada salah satu warganya yang memiliki kreativitas membuat kerajinan miniatur kapal pinisi.

“Sebagai Kepala Desa saya bangga, hasil kreatifitas warga saya Dody ini perlu dikembangkan,” katanya.

“Ada 6 orang wisatawan asal Australia yang berkunjung ke rumah Dody, dan saya ikut mendampinginya. Awalnya dua orang, beberapa hari berikutnya rombongan 6 orang yang datang. Karena dilihatnya unik dan indah dipandang mata, wisatawan asing itu membelinya. Mereka tertariknya, sebuah bambu bisa menghasilkan kerajinan yang luar biasa,” imbuhnya.

Juli Wahydudin (40), Kepala Desa (Kades) Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.

Dikatakannya, sekitar bulan lalu pihaknya pernah mengadakan acara bersama Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, saat itu kerajinan miniatur kapal pinisi karya Dody kami bawa untuk dipromosikan kepada orang-orang dinas tersebut.

“Alhamdulilah tertarik, dan mereka langsung membeli empat miniatur kapal pinisi itu lalu dipajang di kantornya mereka,”terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya akan memberikan pembinaan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan untuk anak-anak muda warga Suak yang memiliki kreatifitas atau inovasi-inovasi lainnya.

“Beberapa bulan lalu, kami pernah mengirimkan beberapa anak muda warga kami untuk mengikuti pelatihan di Dinas Pariwisata Lamsel,”pungkasnya.

Loading...