Beranda Views Kisah Lain Pernah Kuliah di UI, Ini Cerita Pilu tentang Pemecah Kaca Gedung Satap...

Pernah Kuliah di UI, Ini Cerita Pilu tentang Pemecah Kaca Gedung Satap Pemkot Bandarlampung

4190
BERBAGI
Mulyadi Tanjung, ayah kandung Arefaldi

Dandy Ibrahim|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Kasus pemecahan kaca Gedung Satu Atap (Satap) Pemkot Bandarlampung oleh pria bernama Ariefaldi (26) pada 19 April lalu, menyisakan kisah lain tentang pemuda Lampung cerdas tetapi gagal melanjutkan kuliah karena orang tuanya tidak memiliki biaya.

Pengakuan Ariefaldi saat dicokok anggota Sat Pol PP Bandarlampung bahwa dirinya mahasiswa Universitas Indonesia (UI), ternyata benar. Arief memang pernah menjadi mahasiswa UI,tetapi putus kuliah karena kekurangan biaya. Sejak putus kuliah dari Jurusan Sastra Inggris UI itulah kisah pilu keluarga Mulyadi Tanjung, ayah Ariefaldi bermula.

“Tahun 2012 Arief saya jemput di tempat kosnya di  Jakartakarena kami tidak sanggup membiayai kuliahnya lagi,” ujar Mulyadi Tanjung kepada wartawan, di ruang pers Pemkot Bandarlampung Senin (23/4/2018).

Mulyadi Tanjung datang ke Kantor Pemkot Bandarlampung, Senin (23/4/2018) untuk menjelaskan ihwal kesehatan mental anak sulungnya, Ariefaldi, sehingga nekat memecahkan kaca Gedung Satap.

BACA: Prang! Pecahlah Kaca Kantor Gedung Satu Atap Pemkot Bandarlampung

Menurut Mulyadi, sebelum kuliah di UI anak kesayangannya bersekolah di SMAN 2 Bandarlampung.

“Tetapi lulusnya dari SMA Al Azhar, lalu kuliah di Universitas Indonesia,”katanya.

Mulyadi mengaku, sejak pulang ke Bandarlampung,Arief terlihat seperti orang depresi.

“Dia suka berbicara sendiri, suka mengumpulkan kardus. Tahun 2014 anak pertama saya mulai ada tanda – tanda depresi, suka ngomong sendiri, ngumpulin karduslah, ya suka aneh – aneh gitu,” ujar Mulyadi.

Melihat kondisi anaknya yang seperti itu, Mulyadi berusaha menyembuhkannya mulai membawa ke rumah sakit jiwa bahkan juga ke pengobatan alternatif.

“Kami selaku orang tua sudah mencoba mengobati Arif, saya sudah bawa ke rumah sakit jiwa kemudian saya juga mencoba meruqiah anak saya,” ujar Mulyadi Tanjung.

Hingga kini upaya Mulayadi Tanjung, pedagang kaki lima di Pasar Tengah, belum berhasil.

Sebagai orang tua, ayah tiga anak itu merasa bertanggungjawab atas perilaku anak pertamanya yang nekat memecahkan kaca Gedung Satap Pemkot Bandarlampung.

BACA: Keluhannya Tak Direspons, Pria Ini Pecahkan Kaca Gedung Satap Pemkot Bandarlampung

Mulyadi mengaku, dia sudah punya rencananya untuk mengganti kaca yang dipecahkan anaknya.

“Saya sudah  mengumpulkan anggota keluarga besar untuk gotong royong mengganti kaca tersebut. Tapi kami tidak berhasil. Saya kemudian pasrah dan mengaku kepada Pemkot Bandarlampung bahwa kami tidak mampu mengganti kaca yang dipecahkan anak saya,” katanya.

 

Loading...