Siswa Kelas 6 SD di Lampung Selatan Diperkosa Tiga Pria, Pelaku Minta Damai

  • Bagikan
Ilustrasi Kekerasan Seksual/net

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Seorang anak perempuan masih dibawah umur, Mawar (bukan nama sebenarnya) berusia 12 tahun dan masih duduk dibangku sekolah kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau SD, warga Kecamatan Candipuro menjadi korban pemerkosaan. Aksi bejat itu, diduga dilakukan tiga orang pria dewasa secara bergilir di lokasi berbeda.

BACA: Jadi Korban Pemerkosaan Tiga Pria, Gadis di Bawah Umur di Lamsel Dikeluarkan dari Sekolah

Korban Mawar (bukan nama sebenarnya) menceritakan kejadian yang dialaminya, pada Minggu malam (10/10/2021) lalu sekitar pukul 20.00 WIB, ia diajak pergi jalan sama seorang wanita berinisial Pi masih tetangga korban dengan mengendarai sepeda motor di angkringan yang ada di Kecamatan Candipuro. Taklama kemudian, ia diajak pergi jalan lagi oleh Pi ke tempat wisata kuliner di Kecamatan Sidomulyo.

“Begitu di tempat wisata kuliner di Lapangan Sidomulyo, saya diajak pergi lagi sama Mbak Pi. Ktanya nonton organ tunggal di Pantai Senja Kalianda,”kata Mawar kepada teraslampung.com saat ditemui di kediamannya, Selasa malam (23/11/2021).

Malam itu, Ia disuruh naik mobil oleh laki-laki yang dipanggil Ha atau Mcs. Sementara Mbak Pi naik sepeda sepeda motor berboncengan dengan laki-laki yang dipanggil Ji alias Bci. Dari tempat kuliner di Sidomulyo itulah, ia pisah dengan Pi.

Begitu sampai di pantai itu, kata Mawar, ia merasa takut dan minta untuk diantarkan pulang. Saat itu Ia diberi minuman ringan oleh Ha atau Mcs, setelah meminum minuman ringan itu dan masuk ke dalam mobil, Mawar tidak sadarkan.

“Saya sadarnya itu paginya, dan sudah berada dalam kamar. Begitu saya lihat, di atas kasur ada bercak darah dan di celana dalam saya juga ada bercak darahnya. Pada saat saya mau buang air kecil, kemaluan saya terasa sakit,” kata Mawar sembari menangis menceritakan kejadian yang menimpanya.

Mawar mengaku, setelah itu ia  dibawa oleh laki-laki bernama Ji alias Bci dan satu laki-laki lagi yang tidak diketahui namanya mengendarai sepeda motor boncengan bertiga ke tempat kosan seorang wanita dipanggil Ma di daerah Kalianda.

“Hampir satu minggu saya di tempat Mbak Ma. Saya bingung harus berbuat apa dan kata Mbak Ma ini saya suruh diam saja di tempat kosnya itu,”ungkapnya.

Setelah itu, lanjut Mawar, dari tempat kostan mbak Ma ini, ia dijemput pria lain lagi berinisial Di lalu dibawa pergi ke rumah Di di daerah Jemakir, Desa Rawa Selapan, Kecamatan Candipuro. Di rumah itu, Ia gagahi lagi oleh Di. Meskipun Mawar sudah berontak dan melawan, tapi sia-sia.

“Saya sempat melawan dan menendang Di. Saya juga sempat teriak minta tolong. Tapi tidak ada yang membantu, padahal di rumah itu ada ibunya Di. Tetapi dia diam saja. Di pun memperkosa  saya satu kali,”bebernya.

Usa kejadian pemerkosaan itu, selama empat hari korban Mawar merasakan sakit di bagian kemaluan dan perut.

“Empat hari saya merasakan sakit yang teramat dari kejadian itu,”jelasnya.

Mawar Ditemukan Di Rumah Terduga Pelaku Di

Setelah beberapa beberapa hari dicari oleh keluarganya  dan tidak diketahui keberadaannya,  Mawar akhirnya ditemukan oleh ayahnya di rumah Di di daerah Jemakir, Desa Rawa Selapan, Kecamatan Candipuro.

US (60), ayah Mawar, mengatakan  saat malam itu putrinya tidak pulang ke rumah, ia kebingungan. Ia sempat menanyakan ke beberapa teman-teman sekolah Mawar, tetapi tidak ada temannya yang tahu. Karena sudah dua hari dua malam mencari tidak ketemu, Ia mengadukan masalah itu ke Kepala Desanya.

“Saya mengadukan hilangnya anak saya kepada Pak Kades,” kata US kepada teraslampung.com.

Kemudian US mendapat informasi kalau putrinya yang tengah dicarinya itu berada di rumah salah satu terduga pelaku Ji alias Bci di Desa Sukamaju, Kecamatan Sidomulyo. Saat itu juga Ia langsung menuju ke rumah tersebut, tetapi rumah itu sudah dalam keadaan kosong.

Kesokan harinya, US  mendapat informasi lagi kalau putrinya ini berada di kostan di daerah Kalianda tepatnya di belakang GOR Way Handak. Saat itu juga ia menuju ke tempat tersebut, lagi-lagi putrinya tidak ditemukan. Tetapi di dalam kosan itu, ada dua orang wanita dan satu orang laki-laki. Satu wanita itu berinisial Ma, satunya lagi tidak tahu namanya dan satu orang laki-laki berinisial Ml.

“Saat itu saya tanya ke mereka tahu apa tidak keberadaan anak saya. Tadinya mereka ini tidak mengaku. Begitu saya katakan mau melaporkan ke polisi, barulah mereka mengaku bahwa  anak saya dibawa sama laki-laki berinisial Di ke daerah Jemakir, Desa Rawa Selapan,” ungkapnya.

Begitu mendapat informasi dari mereka, lanjut US, saat itu juga ia langsung pergi menuju ke Desa Rawa Selapan untuk mencari keberadaan rumah Dani. Saat mendatangi rumah Di, Ia minta bantuan dengan pamong desa setempat serta ketua pemuda setempat.

“Begitu saya didatangi, ternyata benar anak saya ada di dalam rumah itu dan didalam rumah itu ada ibunya  Di,”jelasnya.

Pada saat ia baru saja bertemu dengan anaknya, kata US, tak lama kemudian tiba-tiba datang anggota dari Polsek Candipuro berinisial En ke rumah terduga pelaku Di. Anggota polisi ini, menanyakan kepada putrinya.

“Saya juga nggak tahu, kok tiba-tiba anggota polisi pak En ini datang dan langsung menanyakan ke anak saya, ‘Kamu sudah di***** apa belum sama Di?’. Lalu anak saya menjawab bahwa ia sudah sekali diperkosa Di dan dua pelaku lainnya. Saya heran kenapa polisi itu tiba-tiba datang dan bertanya seperti itu kepada anak saya. Padahal, saya baru datang di rumah itu dan saya sendiri belum menanyakan mengenai kejadian sebenarnya yang menimpa putri saya,”kata US.

Setelah itu, kata US,  anak perempuannya dibawa pergi oleh  anggota polisi tersebut. Ia mengira,  putrinya akan dibawa ke kantor Polsek Candipuro untuk dimintai keterangan. Ternyata tidak. Setelah dicek di Polsek Candipuro ternyata Mawar tidak ada. US mendapat informasi bahwa putrinya dibawa ke Kantor Desa Titiwangi.

“Di kantor desa itu, katanya mau dilakukan Rembuk Pekon dengan pelaku Di dan orangtuanya. Saat itu pelaku Di bersama orangtuanya mengajak damai. Saya jadi bingung kenapa kok jadi seperti ini? Saya maunya diproses hukum karena putri saya ini sudah dirudapaksa,”bebernya.

Korban Mawar mengaku, setelah dari Kantor Desa itu Titiwangi ia dibawa sama anggota polisi berinisial En  ke Puskesmas Candipuro. Di Puskesmas ia diberi obat oleh petugas Puskesmas tersebut.

“Tapi saya tidak tahu, obat yang diberikan ke saya itu obat apa,”kata Mawar.

Ayah Korban Melaporkan Kasus Pemerkosaan ke Polisi

Tidak terima atas kejadian yang menimpa putrinya tersebut, US  bersama putrinya didampingi Ketua LSM GMBI Kecamatan Candipuro melaporkan kasus tersebut ke Polres Lampung Selatan. Mereka  diterima di bagian Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak), Senin (18/10/2021) lalu.

Laporan korban tersebut tertuang dalam laporan polisi nomor : LP/B-1022/X/2021/SPKT/Sek CDP/Polres Lamsel/Polda Lampung tanggal 18 Oktober 2021.

“Saya sudah melaporkan kasus pemerkosaan itu ke Polres Lamsel. Sebelum membuat laporan, anak saya dilakukan visum terlebih dulu di RSUD Bob Bazar Kalianda didampingi saya dan dua anggota polisi,”kata US.

US mengatakan, meski sudah dilaporkan dan berjalan satu bulan, namun hingga kini belum ada tindak lanjut dari pihak Polres Lampung Selatan terhadap kasus pemerkosaan yang menimpa putrinya tersebut. Karena sampai saat ini, para pelaku tersebut belum juga ditangkap.

“Saya berharap, para pelakunya segera ditangkap dan diproses sesuai hukum berlaku,”ungkapnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Lampung Selatan, AKP Hendra Saputra saat dikonfirmasi terkait laporan kasus dugaan pemerkosaan korban dibawah umur warga Kecamatan Candipuro membenarkannya.

“Ya benar, kasusnya sudah naik ke sidik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, para pelaku tersebut dapat kita amankan,”singkatnya melalui pesan WhatsApp kepada teraslampung.com, Rabu (24/11/2021).

  • Bagikan