Beranda Headline Tips Menghadapi Wartawan Gadungan dan Wartawan Nakal

Tips Menghadapi Wartawan Gadungan dan Wartawan Nakal

31827
BERBAGI
Ilustrasi (dok sultra.com)

TERASLAMPUNG.COM  —  Setelah era reformasi bergulir, media cetak (koran, tabloid, majalah) dan media online tumbuh seperti cendawan di musim penghujan. Media cetak dan media online baru itu tidak tersentral di Jakarta, tetapi juga tumbuh di berbagai pelosok di Indonesia.

Parahnya, bersamaan dengan tumbuh suburnya media massa dan mudahnya warga Indonesia menerbitkan usaha penerbitan media cetak dan media online, sumber daya manusia (SDM) justru jadi semakin parah kualitasnya. Kini , seorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik atau tidak punya pengalaman dan keterampilan menulis pun bisa menjadi wartawan.

BACA: Diduga Memeras, 9 Wartawan Ditangkap Polisi

Tak jarang, kita dengan mudah menemukan seorang satpam, tukang parkir, dan makelar jual beli sepeda motor  nyambi menjadi wartawan. Mereka berpakaian necis, pakai rompi wartawan, dan emblem bertuliskan “PERS”. Di saku bajunya terselip kartu pers dan (tak jarang) kartu anggota LSM.

Di antara mereka memang ada yang mau belajar dan benar-benar menjalankan tugas jurnalistik. Artinya, mereka menghasilkan berita hasil liputan di lapangan, Namun, tidak jarang mereka hanya menggunakan kartu pers sebagai modal untuk bertemu narasumber dan memeras. Bukan berita yang dicari, tetapi uang. Ada yang dengan cara halus. tetapi tidak jarang dengan cara kasar.

BACA: Inilah Cara Oknum Wartawan dan Anggota LSM Memeras Para Kepala Sekolah

Cara halus misalnya dengan minta ongkos atau uang bensin kepada narasumber (umumnya narasumber pejabat). Cara kasar, misalnya, dengan memeras dan minta uang jatah proyek. Seolah-olah wartawan memiliki hak mendapatkan jatah dari sebuah proyek.

Menghadapi wartawan yang berangasan seperti itu, bukanlah perkara mudah. Tidak jarang panitia sebuah acara seminar harus lari terbirit-birit karena dikejar wartawan yang ingin minta uang amplop yang dianggapnya sebagai haknya itu.

BACA: Ini Alasan Melarang Wartawan Meliput Berita Termasuk Pelanggaran Undang-Undang

Beberapa direktur NGO, kepala dinas, dan kepala sekolah di Lampung sering mengeluhkan perilaku wartawan model itu. Mereka sering pusing ketika harus berhadapan dengan wartawan yang datang bukan untuk mencari informasi, tetapi minta jatah uang. Biasanya mereka akan datang rombongan, jeprat-jepret dengan kameranya, dan setelah usai acara akan mencari ketua panitia acara. Biasanya salah satu di antara mereka akan menyodorkan daftar nama wartawan yang datang di acara itu dab seolah-olah panitia harus mengeluarkan uang untuk mereka.

Nah, bagi pejabat, bos, atau  panitia kegiatan yang sering pusing menghadapi wartawan macam itu, tips berikut ini bisa dicoba:

  1. Jangan memberi wartawan uang, meskipun itu hanya “uang bensin”. Sebab, sekali Anda memberikan “uang bensin” ia atau teman-temannya lain akan rajin datang ke kantor Anda. Bukan untuk mendapatkan data sebagai bahan menulis, tetapi mau minta “uang bensin”.
  2. Tanyakan identitasnya: namanya siapa, dari media mana. Kalau ragu dengan jawaban wartawan, tanyakan kartu pers atau surat tugas.
  3. Kenalilah ciri-cirinya, perhatikan cara menyampaikan maksud dan cara melakukan wawancara. Wartawan betulan akan bisa melakukan wawancara dengan baik, pertanyaan-pertanyaan tidak bersifat menuduh atau menghakimi. Sebaliknya, wartawan gadungan atau wartawan nakal pada umumnya akan langsung pada pokok masalah. Misalnya dengan pernyataan ada kasus korupsi atau  penyimpangan di lembaga Anda.
  4. Jangan terkecoh dengan penampilan. Janganlah Anda menganggap bahwa orang yang mengenakan rompi bertuliskan “PERS” sudah pasti adalah wartawan betulan. Tidak jarang, wartawan betulan justru tidak memakai atribut seperti itu. Mereka biasa saja.
  5. Terimalah  mereka dengan baik. Berpikirlah positif  dan anggaplah mereka itu memang wartawan yang ingin mendapatkan informasi untuk menulis berita.
  6. Jika ada gelagat tidak baik, misalnya, si wartawan akan melakukan pemerasan, janganlah kalah gertak. Bersikaplah tenang.
  7. Jika wartawan sudah menyinggung soal kasus di lembaga Anda sedangkan Anda meyakini tidak ada kasus di lembaga Anda, maka Anda tidak perlu takut. Jawablah setiap pertanyaan dengan baik. Jawaban Anda akan menentukan apakah mereka akan berani melakukan aksi selanjutnya atau tidak. Jika jawaban Anda meyakinkan, mereka tidak akan berani macam-macam.
  8. Jangan lupa siapkan rekaman (semisal dengan ponsel atau gadget yang bisa Anda masukkan ke kantong celana). Rekaman ini akan bermanfaat jika mereka menggertak, mengancam, dan memeras. Akan lebih baik jika ruangan Anda ada CCTV sehingga setiap pembicaraan Anda dengan wartawan itu bisa terekam dengan baik.
  9. Jika Anda panitia kegiatan seminar atau konferensi pers, jangan biasakan menyiapkan uang amplop. Sebab, uang amplop yang disediakan untuk para wartawan betulan sering menjadi pemicu makin banyaknya wartawan tanpa media (alias wartawan gadungan). Anda nanti akan kerepotan jika menggelar acara serupa pada kesempatan lain.
  10. Jika perusahaan atau bos Anda menyediakan amplop dan sepertinya memang sudah jadi tradisi di lembaga Anda, maka jika menggelar konferensi pers atau seminar undanglah wartawan dari media yang jelas. Artinya, media itu memang benar-benar ada bukti produknya, bisa diverifikasi, dan rutin terbit. Jika ada kelompok wartawan menyodorkan daftar nama untuk diberi amplop, coba dicek apakah nama di daftar itu termasuk wartawan dari media yang Anda undang. Kalau bukan, Anda bisa menolak kehadirannya.
  11. Perlu dicamkan: wartawan betulan tidak mencari uang amplop ketika melakukan wawancara atau menghadiri konferensi pers. Wartawan masih diperbolehkan  menerima uang dari panitia acara jika mereka menjadi peserta workshop atau seminar yang menempatkan para wartawan sebagai peserta. Namun, ada juga media yang tetap melarang semua jenis pemberian dari narasumber/panitia acara.
  12. Tidak ada salahnya Anda membekali diri dengan pengetahuan tentang dunia pers, UU Pers, dan organisasi profesi wartawan. Wartawan gadungan biasanya akan keder kalau calon sasarannya adalah narasumber yang paham tentang dunia pers. Ya. wartawan yang menjalankan tugas profesinya dengan benar adalah wartawan yang bekerja untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan diri sendiri, apalagi untuk sekadar cari uang receh. Karena bekerja untuk publik itulah maka wartawan diberi “keistimewaaan” yang diatur UU Pers dan aturan lain oleh Dewan Pers.

Oyos Saroso H.N., Ahli Pers Dewan Pers

 

Loading...