Beranda Ekbis Bisnis Waspada Virus Corona, Bandara Pekanbaru Aktifkan Pendeteksi Panas

Waspada Virus Corona, Bandara Pekanbaru Aktifkan Pendeteksi Panas

417
BERBAGI
Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Foto: potretnews.com

TERASLAMPUNG.COM — Otoritas Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekambaru, Riau, meningkatkan kewaspadaan terkair penyebaran virus corona di China. Salah satunya adalah dengan mengaktifkan alat pendeteksi panas untuk memantau setiap penumpang yang datang dari luar negeri di Bandara Sultan Syarif Kasim II.

“Setiap kedatangan pesawat dari luar negeri kita lakukan pengawasan pada setiap penumpang,” kata Koordinator Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara SSK II, Albert Jenson di Pekanbaru, Minggu, 26 Januari 2020.

Alat pendeteksi panas (thermo scanner) tersebut ditempatkan di pintu masuk terminal kedatangan internasional. Piranti keras tersebut berupa kamera yang membaca setiap orang yang melintas sehingga kondisi tubuh mereka terlihat jelas di layar monitor.

BACA: 174 Turis China Tiba di Sumbar, Dijamin Tak Kena Virus Corona

Alat tersebut tidak menimbulkan antrean penumpang karena pendeteksian dilakukan secara otomatis. “Kalau ditemukan ‘suspect’, tindakan kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait seperti dinas kesehatan dan rumah sakit,” katanya.

Ia mengatakan hingga kini belum terdeteksi penumpang dari luar negeri yang dicurigai menderita virus mematikan tersebut. “Sampai saat ini belum ada yang dinyatakan ‘suspect’ corona,” katanya.

Wabah virus corona jenis baru di Cina, yang menyerang paru-paru, bertambah menjadi 52 orang hingga Minggu ini. Bahkan, tiga orang dokter Beijing dinyatakan positif terjangkit sepulang dari Wuhan, Provinsi Hubei, sebagai daerah pertama ditemukan kasus tersebut.

Virus corona menyebar ke daerah lain, dan beberapa negara juga mendeteksi kasus tersebut sudah lintas teritorial. Negara-negara yang terdapat virus corona antara lain Malaysia, Singapura, Thailand, Kanada, Taiwan, Australia, Prancis, Jepang, Vietnam, Korea Selatan, Nepal, dan Amerika Serikat.

BACA: “Horor” di Wuhan: Korban Virus Corona Jatuh Bergelimpangan di Jalan

Ia mengatakan pesawat yang langsung dari Cina tidak ada rute ke Bandara Pekanbaru. Namun, ada rute penerbangan internasional dari negeri jiran yang ada di Pekanbaru.

“Pekanbaru khususnya pesawat yang langsung dari Cina tak ada. Pesawat di sini dari Kuala Lumpur, Malaka, Subang, Malaysia, dan juga Singapura,” kata Albert Jenson.

Sebelumnya, pada Kamis lalu (23/1/2020) Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan pemerintah memperketat pintu masuk negara dengan menyiagakan alat deteksi berupa thermo scanner guna mencegah Novel Coronavirus  atau virus corona (2019-nCoV) masuk ke Indonesia. Melalui alat tersebut, nantinya para penumpang bisa dideteksi sejak dini apakah ada potensi gejala terjangkit virus tertentu.

”Sudah saya cegat (hadang) di bandara, itu concern saya yang dari luar terutama yang dari Tiongkok maupun wabah dari negara mana, kita selalu detect lewat thermal scan, kalau pun tidak ada demamnya itu bisa terlihat apakah ada tanda-tanda flu, semua alat yang ada di bandara, pelabuhan dan jalan darat sudah siap 24 jam,” kata Menkes Terawan.

Peningkatan kewaspadaan ini dilakukan seiring dengan kejadianan penularan di Kota Wuhan, Tiongkok.

Hingga kini, sebanyak 135 thermo scanner telah diaktifkan di 135 pintu masuk negara baik darat, laut maupun udara, memberikan health alert card, memberikan KIE kepada penumpang, menyiapkan 100 RS rujukan infeksi emerging, berkolaborasi lintas sektor serta memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai dampak kesehatan akibat virus tersebut.

”Antisipasi kita lakukan terus menerus, mulai dari pintu bandara, mulai edukasi kepada masyarakat. Saya kan sudah utarakan di media massa berlakulah hidup sehat, kalau batuk ya ditutup, kalau sedang flu ya pakai masker, jangan sampai menulari temannya,” ujar Menkes.

Lebih lanjut, kendati ada tanda-tanda yang menyerupai gejala tertular Novel Coronavirus, Menkes mengingatkan agar proses diagnosis tidak dilakukan sembarangan. Penyebabnya harus diketahui secara detail terutama riwayat perjalanan yang dilakukan serta riwayat interaksinya.

”Di waspadai nomor satu adalah riwayat perjalanannya, itu sangat penting, atau kontak dengan siapa, itulah yang harus kita tahu,” ujar Menkes.

Menurutnya, dengan melakukan pengecekan secara detail dan lengkap, merupakan langkah penting supaya tidak terjadi kesalahan diagnosis, yang justru menimbulkan kesimpangsiuran berita dan kekhawatiran masyarakat. Hal ini mengingat dampak yang ditimbulkan dari pemberitaan ini sangatlah luas dan besar, bukan hanya kesehatan namun juga perekonomian negara.

Tempo

Loading...