Beranda Views Bahasa Bahasa Alay tidak Lahir dari Kebodohan

Bahasa Alay tidak Lahir dari Kebodohan

1035
BERBAGI
Ilustrasi/freeimages.com

Oleh Oleh Ziggy Zeaoryzabrizkie*

Dalam dunia pergaulan di internet, dikenal bentuk penulisan yang dikenal sebagai “leet” yang berasal dari kata “elite” dan sudah dimulai sejak tahun 1980-an ketika internet ditemukan.  Gaya tulisan leet dipopulerkan melalui bulletin board dan chatroom.
Penulisan yang sengaja dibuat salah dan campuran penggunaan alfabet, simbol, serta angka untuk membentuk suatu kata adalah ciri utama leet. 

Penggunaan leet adalah upaya para hacker-hacker generasi pertama untuk menyebarkan informasi, sebagai sebuah upaya enkripsi teks agar tidak mudah dideteksi. Semakin jago seseorang menggunakan leet, tingkat kemampuannya dianggap semakin tinggi pula.  Penggunaan lain leet adalah untuk menyensor kata-kata tidak sopan di forum-forum bicara di internet. Bentuk-bentuk emoticon juga dipercaya merupakan derivasi dari leet. Di bawah ini adalah contoh tulisan leet: 

c0n+oH  +Uli5aN

Banyak bahasa buatan, baik mock language maupun constructed language, beredar dalam keseharian kelompok-kelompok tertentu. Misalnya leet tadi, yang digunakan dalam komunitas para hacker.  Constructed language adalah bentuk bahasa ciptaan manusia, yang diciptakan bukan secara alami seperti bahasa yang banyak kita kenal, melainkan secara buatan atau artificial, kebanyakan untuk kepentingan menambah rasa dalam kenyataan fiktif tertentu; misalnya dalam kisah-kisah fiksi

Contoh-contoh constructed language constructed language yang terkenal adalah bahasa Elvish, Orc, Valar yang diciptakan J.R.R. Tolkien untuk karya-karyanya yang berlokasi di Middle Earth, misalnya “The Lord Of The Ring”; bahasa Klingon dan Vulcan yang diciptakan Marc Okrand dan James Doohan untuk “Star Trek”; bahasa Huttese dan Bocca oleh George Lucas untuk Star Wars; dan yang terbaru, Bahasa Valyrian dan Dothraki oleh David J. Peterson dan George R.R. Martin untuk “Game of Thrones”, serta bahasa Na’vi oleh Profesor Paul Frommer dan James Cameron untuk film “Avatar”.

Di sisi lain, mock language adalah bentuk bahasa yang diderivasikan dari bahasa yang sudah ada atau, dengan kata lain, bahasa pelesetan. J.K. Rowling menggunakan metode ini untuk manciptakan mantra yang bertebaran di sepanjang kisah “Harry Potter” yang kebanyakan berasal dari  Bahasa Inggris dan Bahasa Latin; misalnya mantra penenggelam “descendo” yang berasal dari kata descend” yang artinya ‘menurunkan’ atau ‘menenggelamkan’, atau mantra pemberi cahaya “lumos” yang berasal dari kata “luminous” yang artinya ‘bercahaya’.

 

Dapat dikatakan bahwa Bahasa Alay tergolong ke dalam mockl anguage. Kemampuan membuat bahasa, terutama di bidang literatur, dianggap sebagai salah satu tanda kejeniusan sang pencipta dalam bidang linguistik.  Untuk menciptakan bahasa, biasanya diperlukan kemampuan dan pengetahuan linguistik yang mendalam, terutama terhadap bahasa-bahasa klasik beserta alfabet dan runiknya.  J.R.R. Tolkien sendiri merupakan ahli philology, yaitu ilmu mengenai sejarah (terkait bahasa), linguistik, dan literatur, dan beliau dikenal sebagai pelopor constructed language dalam dunia fiksi.

 

* Ziggy Zeaoryzabrizkie adalah Sarjana Hukum Universitas Padjadjaran, Magister Hukum Universitas Indonesia, penikmat literatur, lifestyle observer, fashion designer, dan pelajar abadi.