Beranda Views Inspirasi Deki Afrizal Ubah Anak-Anak Putus Sekolah dan Tukang Mabuk Lem Jadi Gemar...

Deki Afrizal Ubah Anak-Anak Putus Sekolah dan Tukang Mabuk Lem Jadi Gemar Baca Buku

605
BERBAGI
TBM Kampung Merdeka selalu diramaikan anak-anak yang ingin membaca.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Peran serta setiap warga masyarakat, tidak boleh ditepikan begitu saja. Mereka justru dapat dipastikan mampu menghidupkan dan menjaga setiap harapan masyarakat seperti apa yang telah dilakukan oleh Deki Afrizal (30).

Sosok pria tamatan SMA ini, bukan hanya sebagai saksi tapi juga memiliki daya guna untuk membangkitkan optimisme masyarakat dari kebiasaan tidak baik menjadi lebih baik. Yakni menumbuhkan minat baca, dengan gerakkan membaca buku bersama dan belajar edukasi lainnya.

Deki sebagai sosok figur yang sangat komunikatif, meskipun pekerjaannya hanya sebagai pencari barang-barang bekas (rongsokan) dan juga Satpam. Namun hal positif yang dilakukannya itu sebagai penggiat literasi, dan mendirikan perpustakaan “Taman Baca Masyarakat (TBM) Kampung Merdeka”, mampu membangkitkan minat tumbuh baca anak-anak dari yang belum sekolah, sudah sekolah dan putus sekolah diseputaran Kali Belau Kelurahan Kuripan, Telukbetung Barat dan anak-anak dari luar lingkungan tersebut.

Kegiatan positif yang dilakukan Deki tersebut, menarik perhatian dan mendapat dukungan seluruh warga masyarakat setempat dan warga lainnya. Secara gotong royong, warga pun membuat tempat membaca dan belajar edukasi lainnya untuk anak-anak sebuah Gardu Baca tepat berada di tepian Sungai Belau tersebut. Tidak hanya itu saja, selain warga ada juga para relawan yang membantunya menggerakkan anak-anak gemar membaca buku tersebut.

Kepada teraslampung.com Deki Afrizal menceritakan, awalnya ia tergerak bagaimana menumbuhkan minat baca anak-anak baik yang masih sekolah ataupun putus sekolah tersebut, lantaran ia melihat anak-anak yang masih sekolah yang tinggal diseputaran tempat tinggalnya di Kali Belau Kelurahan Kuripan, Telukbetung Barat tersebut banyak menghabiskan waktu bermain yang sia-sia begitu saja dan tidak terarah.

Kemudian hal lain yang mendorongnya lebih kuat lagi agar mereka gemar membaca buku, kata Deki, karena sering dilihatnya anak-anak yang putus sekolah ini baik itu warga setempat ataupun dari luar lingkungan, sering melakukan hal yang kurang pantas atau kebiasan buruk menghirup lem Ehabond atau mabok lem di tepian Kali Belau tersebut. Padahal usia mereka ini tergolong masih anak-anak, yakni sekitar usia 14 dan 16 tahun.

“Kerana kepritanan itulah, saya mulai berpikir dan mencari cara bagaimana merubah kebiasaan hal buruk itu supaya menjadi lebih baik dan berguna untuk dirinya sendiri, agama dan berguna untuk masyarakat. Saya sangat berterima kasih sekali, apa yang saya lakukan ini mendapat dari dukungan warga,” katanya.

BACA: Satpam Ini Sisihkan Gaji dan Penghasilanya Jualan Barang Rongsok untuk Bangun Perpustakaan

Pada saat itulah, kata Deki, ia mulia mencoba dan berusaha mengajak anak-anak yang putus sekolah maupun yang masih sekolah, melakukan kegiatan positif dengan menggerakkan mereka agar gemar membaca buku, belajar keagamaan seperti mengaji serta belajar edukasi lainnya membuat kerajinan tangan hal yang bermanfaat lainnya.

“Tadinya saya melihat anak-anak yang putus sekolah ini, ada yang warga sini ada juga yang dari luar pada mabok lem gitulah. Secara pelan-pelan, saya coba sentuh mereka mengajaknya untuk berubah dari kebiasaan buruk itu dengan membaca buku bersama dan belajar edukasi lainnya. Setelah saya coba gerakkan, alhamdulilah dan bersyukur sekali mereka sudah nggak seperti dulu lagi,”ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan membaca buku bersama itu, dilakukan setiap hari Kamis dimulai sekitar pukul 16.00 WIB hingga 17.30 WIB dan hari Minggu mulai pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB.

“Anak-anak diajak membaca buku bersama selama 20 menit, baik itu di ruang perpustakaan atau di Gardu Baca. Setelah itu, baru mereka belajar edukasi lainnya yang diajari oleh relawan membuat kerajinan tangan ataupun yang lainnya,”ujarnya.

Deki mengaku, saat ini ada 80-an anak yang mengunjungi perpustakaannya untuk untuk membaca buku bersama.Selain anak-anak SD dan SMP, ada juga pengunjung yang putus sekolah.

“Kalau memang ada yang dari luar lingkungan kami mau membaca buku bersama dan belajar di sini ya silakan saja. Saya tidak membatasi,” ujarnya.

Untuk melayani para pengunjung, Deki tidak sendiri. Ia dibantu sekitar 20 relawan. Para relawan ada pelajar, mahasiswa, dan  karyawan perusahaan.

BACA: Inilah Alasan Karyawati PT SGC Ini Jadi Relawan TBM Kampung Merdeka di Pinggir Kali Belau

“Bagi saya, para relawan adalah pahlawan. Sebab, mereka bergerak dan bekerja tanpa harus ada yang menyuruh atau diketahui oleh yang lainnya.Mereka juga tidak dibayar,” katanya.

Deki berharap,  perpustakaan TBM Kampung Merdeka dapat menumbuhkan minat baca anak-anak dan masyarakat di kampungya.

“Dengan begitu, kelak mereka akan lebih mengetahui informasi dunia dan melakukan hal yang positif tentunya berguna untuk dirinya sendiri, masyarakat, agama dan juga bangsa ini. Pesan saya kepada anak-anak ini, janganlah pernah bermimpi jadi orang berhasil, tapi bermimpilah bagaimana jadi orang yang berguna untuk masyarakat.Itu saja,” tandasnya.