Beranda News Kabar Desa Kisah di Balik Sukses Sidorejo sebagai Desa Nabung Saham Pertama di Lampung

Kisah di Balik Sukses Sidorejo sebagai Desa Nabung Saham Pertama di Lampung

1318
BERBAGI
Kepala Desa (Kades) Sidorejo, Tommy Yulianto

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Desa Sidorejo di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan kini tercatat sebagai Desa Nabung Saham (DNS) pertama di Lampung atau kedua di Indonesia, Sebagai DNS, Desa Sidorejo memiliki Galeri Investasi Desa di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurut Kepala Desa (Kades) Sidorejo, Tommy Yulianto,edukasi pasar modal di Program Desa Nabung Saham (DNS) ini, sudah dimulai pada Februari 2018 lalu dan hingga berjalan sekarang ini.

Tommy mengaku, untuk ikut program menabung saham, masyarakat tidak perlu harus repot-repot lagi datang ke Kota seperti Jakarta.

“Masyarakat cukup mendaftarkan diri dengan datang ke Galeri Investasi Desa Bursa Efek Indonesia (BEI) di Kantor Desa Sidorejo, dengan membawa KTP, KK, NPWP dan buku rekening. Setelah itu, mengisi formulir pendaftaran dan menyiapkan uang sebagai modal awal minimal Rp 100 ribu,” katanya.

Untuk mengetahui prosesnya, warga akan diberikan pelatihan oleh tim inovator desa selama satu bulan. Kalau sudah paham, baru akan dibuatkan akunnya dan dibukakan rekening saham (RDN), deposit atas nama sendiri agar bisa login ke aplikasinya,”ungkapnya.

BACA:Sidorejo, Desa Nabung Saham Pertama di Lampung

Di Desa Sidorejo ada  2.300 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa 12.000. Dari belasan ribu penduduk itu, setidaknya saat ini ada 400 orang yang sudah ikut dalam progaram edukasi pasar modal “Desa Nabung saham” dengan mendaftar sebagai investor saham. Mereka sudah melakukan transaksi di pasar modal nabung saham tersebut.

Tomy  berharap  program “Desa Nabung Saham” bisa dikenal lagi secara luas di masyarakat. Untuk itu,  ia bersama tim akan kembali memberikan sosialisasi edukasi pasar modal kepada masyarakat mengenai “saham”. Tujuannya, untuk menghindari agar masyarakat tidak terkena dampak penipuan investasi bodong yang meresahkan.

“Bagi masyarakat yang ingin tahu mengenai saham, silahkan bisa datang langsung ke Galeri Investasi Desa Bursa Efek Indonesia (BEI) di Kantor Desa Sidorejo,”terangnya.

Diakuinya, pada bulan Juni 2018 lalu, dirinya mendapatkan deviden senilai Rp 2,6 juta dari perusahaan yang sudah IPO. Menurutnya, nominal tersebut sebuah nilai yang cukup besar untuk warga desa khususnya.

“Saya tahunya kalau dapat deviden itu, setelah ada email pemberitahuan yang masuk ke ponsel saya,”ucapnya.

Untuk mendukung pembelian saham, lanjut Tommy, setidaknya ada dua koran bisnis yang selalu dibaca dirinya dalam setiap hari seperti media Bisnis Indonesia dan Tabloid Kontan.

Tidak hanya itu saja, bahkan dihadapannya diatas meja kantor itu tampak terlihat ada dua buah buku tentang saham berjudul Technical Analysis of The Financial Markets, karya John J Murphy dan Technical Analysis for Mega Profit, karya Edianto Ong.

Suratno (39), warga Dusun 3 Desa Sidorejo yang ikut dalam progaram Desa Nabung Saham (DNS).
Suratno (39), warga Dusun 3 Desa Sidorejo yang ikut dalam progaram Desa Nabung Saham (DNS).

Di aplikasi ponsel pintar (android) miliknya, RHB Sekuiritas Indonesia menyediakan juga fitur sederhana bagi penggunanya. Dalam fitur itu, terdapat sebuah kolom yang memberikan saran saham-saham yang perlu dibeli pada keesokan hari, pekan depan hingga bulan depan. Selain itu juga, termasuk saham-saham yang perlu ditahan (istilah untuk tidak dijual).

Tommy Yulianto yang merupakan sebagai Kepala Desa (Kades) Sidorejo ini, menjadi salah satu contoh untuk semua Kepala Desa di Provinsi Lampung sebagai investor saham yang sukses menjalankan program Desa Nabung Saham (DNS) tersebut.

BACA: DNS, Orang Kampung pun Bisa Menjadi Investor

Suratno (39) warga Dusun 3 Desa Sidorejo yang ikut dalam progaram Desa Nabung Saham (DNS) mengatakan, awalnya ia medapatkan informasi itu dari temannya, bahwa pemerintah sedang menggalakkan program yuk nabung saham.

“Tadinya saya tidak begitu percaya dan yakin program nabung saham ini, karena bagi saya warga desa tahunya mungkin itu investasi bodong. Apalagi sudah banyak sekali warga yang tertipu soal investasi-investasi gitu,”ucapnya.

Setelah mencoba mendalami dan banyak bertanya dengan salah satu inovator desa di program Desa Nabung Saham (DNS) tersebut, kata Ratno sapaan akrabnya, ternyata program nabung sabung saham ini, bukanlah investasi bodong dan benar-benar sebuah program yang diakui atau disahkan oleh pemerintah.

“Setelah saya mendaftar dan ikut di program Desa Nabung Saham (DNS) ini, saya dapat keuntungan dari jual beli saham itu dan alhamdulillah bisa membantu menaikkan ekonomi saya,”ungkap bapak dua orang anak ini.

Dikatakannya, masyarakat jangan khawatir untuk ikut program investasi di DNS ini, karena program inilah yang benar-benar resmi dan diakui oleh pemerintah.

Sementara Lusia Rita Undani (48), salah seorang ibu rumah tangga (IRT) yang kesehariannya membantu suaminya membuka usaha bengkel motor, service dan sparepart “Teguh Motor” di Pasar Sidomulyo mengatakan, ia ikut bermain saham itu dimulai dengan keputusannya membuka sebuah akun di salah satu perusahaan sekuiritas. Pilihannya, PT. RHB Sekuiritas Indonesia yang saat itu melakukan sosialisasi saham di Balai Desa Sidorejo melalui program Desa Nabung Saham (DNS) beberapa waktu lalu.

Lusia Rita Undani (48), salah seorang ibu rumah tangga (IRT) yang ikut dalam program Desa Nabung Saham (DNS).

“Sejak saat itulah, saya mulai ikut nabung saham. Apalagi modal awal yang diperlukan dalam program itu hanya Rp 100 ribu, dan menurut saya sebuah nilai sangat terjangkau sekali bagi warga desa seperti saya ini,”ujarnya saat di Galeri Investasi BEI di Kantor Desa Sidorejo.

Nabungnya rutin tiap bulan, ada uang Rp 100 ribu bisa tabungkan bahkan lebih pun bisa. Jadi setiap bulan uang itu kita setorkan, nantinya dibelikan saham dan itu rutin dilakukan setiap bulan bahkan kalau bisa sampai jangka panjang menabungnya. Karena manfaat nabung saham ini, dapat dirasakan kalau saham itu sudah naik sekian persen.

“Setiap bulan saja kita rutin nabungnya, meski berapapun itu nominalnya. Ya hasilnya kan, nantinya buat masa depan anak. Karena Investasi di program Desa Nabung Saham (DNS) ini tidak akan hilang dan menjanjikan, selain itu juga bisa diwariskan ke anak cucu,”ucapnya.

Sembari berbincang-bincang, mata Ibu dua orang anak ini, begitu awas melihat halaman aplikasi sebuah perusahaan sekuiritas di ponsel pintarnya yang mana warna hijau dan merah mendominasi. Menurutnya, warna hijau menunjukkan harga saham di perusahaan sedang naik dan warna merah menandakan kalau harga saham sedang turun.

“Kalau pas warnanya itu banyak yang hijau, rasanya ya pasti senang sekali mas karena harga saham sedang naik,”bebernya.

Dikatakannya, sembari menjaga bengkel, ia terus aktif menggunakan ponsel pintarnya untuk terus melakukan tranding atau jual beli saham di akun miliknya. Aktivitasnya itu, dimulai dirinya pada awal Maret 2018 lalu.

Kantor Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan (Foto: Teraslampung.comZainal Asikin)
Kantor Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan (Foto: Teraslampung.comZainal Asikin)

Untuk memudahkan informasi pergerakan saham, Rita memiliki catatan harian sendiri dari setiap informasi dan transaksinya. Catatan itulah yang dijadikan acuannya untuk membeli saham di akun miliknya, baik harga terendah dan tertinggi.

“Kita melihat catatan, ya supaya bisa cuan (untung). Awalnya yang pertama saya tahu itu, hanya buy and sell. Setelah saya coba untuk terus rajin belajar, lalu baca berita dan buka google, barulah saya tahu bagaimana caranya agar supaya bisa cuan tersebut,”kata dia.

Dalam memilih saham, dikaui Rita tidak perlu bertele-tele dan tanpa analisa terlebih dulu. Tapi yang paling terpenting baginya adalah, apakah perusahaan itu cukup prospek di pekan ini hingga pekan depan atau tidak. “Ya kalau dirasa memang prospek, maka kita beli saja,”ungkapnya.

Rita mengutarakan, mengenai keuntungan di jual beli saham, cukup lumayan besar hasilnya. Mayoritas dalam sehari kerja, mendapat keuntungan 1 persen dari modal pokok. Apabila dalam satu bulan ada 20 hari kerja saja, maka keuntungan yang didapat bisa mencapai 20 persen dari modal pokok.

“Saat baru mulai berjalan, saya pernah satu kali meraup untung Rp 1,5 juta dan keuntungan itu saya dapat dalam waktu tiga hari kerja saja. Bayangkan saja, siapa yang mau menggaji 20 persen sebulan dari modal pokok. Tapi kalau sekarang ini, saya sudah beberapa kali dapat keuntungan dari nabung saham ini,”terangnya.

Keuntungan dari hasil nabung saham tersebut, lanjut Rita, digunakan untuk membeli ponsel, menambah bayar angsuran dan juga simpanan untuk investasi lagi dengan membeli 1.000 lot saham. Beberapa diantara saham yang dimilikinya, bahkan sudah melakukan bagi hasil keuntungan dari perusahaan.

“Kalau pertama saya ikut itu, yang saya tahu Cuma buy and sel saja. Karena terus belajar, yakni baca buku-buku tentang saham dan buka google. Sekarang ini, saya sudah sedikit tahu dan paham bagaimana caranya untuk bisa cuan (keuntungan). Setiap sore saya kerap dapat kiriman email dari RHB Sekuiritas, dan itu setelah pasar bursa saham ditutup,”jelasnya.

Meski demikian, Rita mengaku masih belum cukup piawai bermain saham dan sampai saat ini, ia belum dapat membaca harga support dan resistance di bursa saham tersebut. Tak jarang, Rita seringkali menemukan saham miliknya terlanjur sudah dijual. Beberapa saat kemudian, harga sahamnya masih melambung atau ketika saham yang dikira turun nilainya. Karena terlanjur sudah dijual, ternyata malah kemudian naik harganya.

Rita menambahkan, kelebihan dari nabung saham ini jika dibandingkan nabung di bank, jika simpan uang Rp 100 ribu di bank pasti uang itu akan habis dipotong administrasi. Tapi kalau nabung saham dengan modal yang sama Rp 100 ribu, uang itu tidak akan berkurang meski didiamkan. Beberapa tahun kemudian, nominalnya akan bertambah menjadi beberapa ratus persen.

“Yang jelas, program Desa Nabung Saham sangat aman karena program ini resmi dari pemerintah dan sudah diresmikan oleh BEI dan OJK. Jadi dengan menabung saham ini, dapat membantu untuk diri kita sendiri. Untuk masyarakat dengan sadar memikirkan masa depannya, silahkan bergabung di nabung saham ini untuk masa depan yang lebih baik lagi,”tukasnya.

Apa yang dilakukan oleh Kepala Desa Sidorejo, Tommy Yulianto dan warganya yakni Suratno dan Lusia Rita Undani ini, terbilang hal baru di Provinsi Lampung khususnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Mendapat keuntungan lebih besar, membuat Tommy, Ratno, Rita dan lainnya tetap serius dalam perdagangan saham. Bahkan beberapa buku mengenai perdagangan saham, dibaca mereka untuk menambah wawasan mengenai hal tersebut.

 

Loading...