Beranda Views Jejak Perajin “Kebung Tikhai” dari Kota Dalam, Penjaga Warisan Leluhur Adat Lampung

Perajin “Kebung Tikhai” dari Kota Dalam, Penjaga Warisan Leluhur Adat Lampung

524
BERBAGI
Mashayati (65), warga Dusun III, Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, membuat kebung tikhai di rumahnya, Minggu, 17 Maret 2019.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Kerajinan Kebung Tikhai merupakan warisan dari nenek moyang dan ciri khas adat budaya Lampung. Kebung Tikhai  sangat penting dan dibutuhkan ketika masyarakat adat Lampung menggelar upacara adat. Pada acara adat Lampung, Kebung Tikhai biasanya dipakai sebagai ornamen yang ditempelkan di dinding.

Perajin Kebung Tikhai kini semakin langka. Yang masih eksis dan terus memproduksi Kebung Tikhai adalah warga di Dusun III, Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Perajin kebung yang ada di Desa Kota Dalam ini merupakan satu-satunya yang ada di Lampung Selatan dan nyaris luput dari perhatian.

BACA: Arti Warna dan Pemakaian “Kebung Tikhai” dalam Acara Adat Lampung

Biasanya masyarakat adat Lampung yang akan melakukan acara adat, akan menggunakan ornamen yang biasa disebut dengan Kebung Tikhai, yaitu kain penutup dinding atau kain lebar dan panjang bermotif belah ketupat. Kain tersebut biasanya digantung saat acara adat Lampung. Misalnya pada acara  pesta pernikahan, khitanan, dan acara adat Lampung lainnya.

Seorang perajin Kebung Tikhai, Mashayati (65), warga Dusun III, Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan mengaku menekuni kerajinan ini sejak tahun 1989. Meskipun sudah tidak muda lagi, namun tangan Mashayati masih cukup lincah memasang pernak-pernik (ramboci) di kain beludru merah yang akan dijadikan Kebung.

Mashayati mengaku matanya juga masih begitu awas melihat setiap memasukkan manik-manik dan benang lalu dijahitkan di kain yang dijadikan Kebung Tikhai bersama para ibu rumah tangga pengrajin lainnya yakni Jaimah, Parida, Purwatina, Umiati, Hasana, Junawat, dan Farida.

Mashayati (65), warga Dusun III, Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang sudah 30 tahun masih terus menekuni kerajinan “Kebung Tikhai” warisan khas adat budaya Lampung.

“Di Desa Kota Dalam ini, ada sekitar 10 pengrajin termasuk saya dan manyoritas ibu rumah tangga yang membuat Kebung Tikhai kerajinan khas adat lampung ini. Selain ibu rumah tangga, ada juga remaja yang ikut membantu. Mereka buat Kebungnya, dengan ciri khasnya masing-masing sesuai pesanan dan sudah ada harga jualnya sendiri,”kata Mashayati saat di temui teraslampung.com di rumahnya, Minggu (17/3/2019).

Menurut ibu satu anak ini, di setiap acara adat pernikahan dan khitanan khususnya masyarakat adat lampung di Kabupaten Lampung Selatan ini, tidak semua masyarakat adat lampung menggunakan Kebung yakni menggunakan yang modern.

Perempuan kelahiran 1954 ini mempunyai keahlian membuat kerajinan Kebung sejak gadis, tepatnya setelah ia belajar dari almarhum neneknya.

BACA JUGA: Kain Tapis Lampung, Lambang Status Berjejak Sejarah Panjang

Ia mengaku Kebung tidak hanya sebagai ornamen kain penutup dinding diacara adat khas lampung seperti pesta pernikahan, khitanan atau acara adat lainnya semata. Lebih dari itu, Kebung sebagai identitas dan ciri masyarakat adat Lampung khususnya.

Kebung ini merupakan ornamen yang sebenarnya wajib ada dalam setiap acara adat khas lampung. Tidak hanya itu saja, Kebung ini sebagai kerajinan tradisional dan produk budaya lokal masyarakat lampung, maka perlu dilestarikan agar tidak punah begitu saja warisan budaya leluhur ini,”ucapnya.

Mashayati mengatakan, kerajinan Kebung yang dibuatnya bersama para ibu rumah tangga di Desa Kota Dalam ini, ada tiga jenis yakni Kebung Pesisir, Saibatin dan Pubian. Seperti Kebung Ranjang Maling, Ketupat, Padung, Tirai, Lupus dan lainnya. Bahan yang dipakai untuk membuat Kebung, kain jenis belundru, tamatex dan hero. Lalu pita, manik-manik (ramboci) dan bahan lainnya. Untuk warna Kebung yang dibuat, ada warna merah, putih, hijau dan hitam.

“Kalau proses pembuatannya, karena memang rumit jadi memakan waktu sekitar satu bulan karena ada yang dijahit tangan (masang ramboci) dan juga dijahit pakai mesin jahit seperti memasang motif bentuk Siger dan menyambung kainnya,”ungkap wanita yang sudah 30 tahun menekuni kerajinan kebung.

Menbuat kerajinan “kebung tikhai”.

Untuk modal yang dikeluarkan, kata Mashayati, beragam dan semua itu tergantung permintaan dari pesanannya. Jika yang dipesan biasa Rp 1,5 juta, tapi jika pesannya komplit (full), bisa mencapai Rp 5 jutaan lebih. Sementara dijualnya, ada yang Rp 5 juta untuk yang biasa dan Rp 15 juta untuk Kebung yang komplit (full).

“Pemesan Kebung hasil dari kerajinanan kami ini, selain wilayah Lampung Selatan ada juga yang dari daerah luar seperti Pesawaran, Bandarlampung dan daerah lampung lainnya,” katanya.

Ia mengaku selama 30 tahun menekuni kerajinan Kebung belum ada sekali pun adanya perhatian dari pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Ia berharap perajin tradisional Kebung seperti dirinya dan lainnya yang ada di Desa Kota Dalam ini dapat diperhatikan oleh pemerintah agar lebih maju dan dikenal lagi lebih luas.

BACA JUGA: Kain Tapis Kuno, Warisan Nenek Moyang Orang Lampung yang Makin Langka

“Karena modalnya sedikit, makanya pelan-pelan berusaha ditekuni selama ini. Beres satu dan laku, baru buat lagi. Selama 30 tahun saya menekuni kerajinan Kebung ini, tidak ada yang menggubris apalagi mau kasih bantuan modal. Ya harapannya, perajin seperti kami diperhatikanlah,”pintanya.

Ia menambahkan, dirinya tetap bertahan selama puluhan tahun membuat kerajinan Kebung khas adat lampung ini, karena tidak mau ciri khas kerajinan adat budaya lampung yang memang sudah menjadi warisan dari leluhur nenek moyang kami hilang begitu saja.

“Saya dan para ibu rumah tangga lainnya di Desa Kota Dalam akan terus melestarikannya. Kalau sudah tidak ada lagi yang buat kerajinan Kebung, warisan budaya ini akan hilang,”pungkasnya.

 

Loading...