Beranda Ruwa Jurai Lampung Utara Soal Dokter RSU Ryacudu Mogok, Ketua IDI Sudah Sampaikan Teguran

Soal Dokter RSU Ryacudu Mogok, Ketua IDI Sudah Sampaikan Teguran

567
BERBAGI
RSU Ryacudu Kotabumi
RSUD Ryacudu Kotabumi, Lampung Utara

Feaby Handana | Teraslampung.com

Kotabumi — Ikatan Dokter Indonesia Lampung Utara mengakui telah menegur para dokter spesialis yang melakukan aksi mogok kerja sehingga tidak melayani pasien di Rumah Sakit Umum H.M.Ryacudu Kotabumi, Lampung Utara. Aksi mogok kerja yang berlangsung sejak Senin (13/1/2020) ‎itu masih berlangsung hingga Rabu (15/2/2020).

BACA: Dokter Spesialis Mogok, RSU Ryacudu Kotabumi Berhenti Layani Pasien

“Saya sudah menegur mereka supaya tidak berlarut – larut,” tegas Ketua IDI Lampung Utara, Sri Haryati, melalui ponselnya, Rabu (15/1/2020).

Teguran yang dilakukannya masih bersifat lisan dan akan dipertegas dengan teguran tertulis jika para dokter spesialis masih melakukan aksi mogok kerja.

Teguran itu harus disampaikan kepada mereka karena aksi ini sangat merugikan masyarakat dan tidak sesuai dengan sumpah dokter.

“Akan ada teguran tertulis yang disampaikan kepada setiap dokter spesialis. Di balik aksi ini ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan mereka,” tandas dia.

Sri Haryati menguraikan, ‎sejatinya persoalan ini tidak perlu terjadi jika Pemkab Lampung Utara memenuhi janji mereka kepada para dokter spesialis. Janji yang diingkari itu tidak hanya meliputi insentif bulanan melainkan juga remunerasi bulanan.

“Insentif dan remunerasi dijanjikan akan dibayar ternyata tidak dibayar‎,” paparnya.

‎‎Sejak Senin hingga Rabu (15/1/2020), seluruh dokter spesialis di Rumah Sakit Umum H.M.Ryacudu Kotabumi, Lampung Utara ‎melakukan aksi mogok kerja. Aksi mogok kerja ini adalah puncak kekesalan mereka akibat uang tunjangan mereka selalu hangus beberapa bulan nyaris tiap tahun .

Buntut dari aksi mogok kerja tersebut, Rumah Sakit Umum H.M.Ryacudu, Kotabumi, Lampung Utara terpaksa menolak pasien yang memerlukan pertolongan para dokter spesialis. Kebijakan ini terpaksa diambil lantaran para dokter spesialis masih tetap mogok kerja.

Kabar yang merugikan masyarakat ini langsung direspon oleh Ketua DPRD Lampung Utara, Romli. Politisi asal Partai Demokrat ini melakukan inspeksi mendadak di RSUR Kotabumi pada pagi ini.

“Hasil sidak kali ini ternyata para dokter spesialis menolak untuk melayani pasien sehingga para pasien hanya dilayani oleh dokter umum,” kata Ketua DPRD, Romli usai sidak.

Kondisi ini sepatutnya tidak boleh terjadi karena hal ini sangat merugikan masyarakat luas. Masyarakat yang ingin berobat terpaksa mendapat pelayanan seadanya dan harus memilih berobat ke RS lain jika ingin mendapatkan pelayanan intensif.

“Ini soal kepentingan orang banyak. Mestinya mereka tidak seperti itu,” tegas dia.

Pihaknya berjanji akan sesegera mungkin menindaklanjuti kondisi tersebut supaya tidak berlarut – larut. Dengan demikian, pelayanan terhadap pasien akan kembali berjalan normal seperti biasanya.

BACA: Tunjangan Bulanan Kerap Hangus, Dokter Spesialis RSUR Mogok Kerja

“Sekali lagi, saya mohon kebesaran hati para dokter spesialis untuk tetap melayani pasien sembari kami bersama eksekutif mencari solusi terkait tuntutan mereka,” kata Romli.

Dikritik Netizen

Aksi mogok kerja para dokter speslialis di RSU Ryacudu tidak hanya menjadi perhatian warga Lampung Utara. Netizen atau warganet dari beberapa daerah di Lampung juga mencermati aksi tak elok itu.

Sembari menautkan berita dokter mogok yang dimuat teraslampung.com, seorang netizen di Bandarlampung menulis di linimasa Facebook: “rakyat selalu jadi korban. duit rakyat dijadiin bancakan, uang apbd minus, uang tunjangan dokter gak dibayar. akhirnya dokter mogok kerja.”

“Dokter yang mogok itu ingat sumpah dokter nggak sih? Ketika dulu disahkan jadi dokter kan sudah mengucapkan sumpah untuk membaktikan hidupnya untuk kepentingan kemanusiaan. Jadi nggak semata-mata demi gaji dan tunjangan kerja,” tulis Farlian Ahmad, seorang warganet, di akun Facebook miliknya.

Seorang netizen lain pun menukilkan sumpah dokter untuk mengingatkan para dokter di Lampura yang mogok:

Demi Allah saya bersumpah, bahwa:

1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
2. Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
3. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.
4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.
5. Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
6. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan.
7. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
8. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.
9. Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
10. Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung.
11. Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
12. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Loading...