Beranda Views Jejak Minak Gejala Ratu, Radin Imba, Radin Inten dan Jejak Penyebaran Islam di...

Minak Gejala Ratu, Radin Imba, Radin Inten dan Jejak Penyebaran Islam di Bumi Lampung

1909
BERBAGI
Bangunan Keratuan Darah Putih di Panengahan, Lampung Selatan (Foto: Teraslampung.com/Teraslampung.com)
Bangunan Keratuan Darah Putih di Panengahan, Lampung Selatan (Foto: Teraslampung.com/Teraslampung.com)

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Selama dalam perjalanannya menyiarkan agama Islam, setelah dewasa Minak Gejala Ratu menemukan seorang wanita tambatan hatinya dan menikah dengan seorang putri dari kesultanan Aceh bernama Tun Penatih. Sejak menikah dengan putri dari Aceh tersebut, Minak Gejala Ratu mengganti namanya menjadi Muhammad Aji Saka.

“Dari perkawinannya dengan Tun Penatih, Minak Gejala Ratu atau Muhammad Aji Saka dianugerahi enam orang anak dan mereka masing-masing bernama Khatu Batin Khatu atau Radin Imba Kesuma Ratu I, Pangikhan Putra, Minak Kelabu Kakha, Minak Sengaji Pakhung, Minak Muli, Minak Mekhanai,”ungkapnya.

Keratuan Ratu Darah Putih yang dipimpin oleh Ratu (Raja) Minak Gajala Ratu berganti nama Muhammad Aji Saka tersebut, kata Budiman, dijaga oleh para hulu balang atau pengawal setianya dan tangguh yang berasal dari peti pemberian ayahandanya Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Wilayah penjagaan Keratuan Ratu Darah Putih tersebut adalah Gunung Rajabasa, Tanjung Tua, Anjak Keratuan Sampai Matakhani Mati, Seragi Sampai Way Sekampung, Gunung Cukkih Selat Sunda, Keliling Gunung, Batu Payung, Gunung Kakhang, Tanjung Selaki, Anjak Keratuan Mid Matakhani Minjak, Tuku Tiga Dan Sumokh Kucing.

Para hulu balang yang melakukan penjagaan dibeberapa wilayah tersebut, dipanggil dengan sebutan nama dan juga sesuai dengan keahliannya masing-masing seperti: Ikhung Tebak (Hidung Melintang), Ikhung Cungak (Hidung Mendongak), Luah Takhing (keluar Taring), Jangguk Khawing (Janggut Panjang tidak Beraturan), Banguk Khabit (Mulut Sompel), Bekhak Banguk (Mulut Lebar), Mata Sipit, Banguk Kicut (Mulut Mengot), Pudak Bebai (Muka Perempuan), Mata Kedugok (Mata Ngantuk), Mata Kicong (Mata Sebelah) dan Ikhung Pisek (Hidung Pesek).

Setelah Muhammad Aji Saka (Ratu Darah Putih) dan Tun Penatih wafat dan dimakamkan di Keramat Saksi, Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung selatan. Selanjutnya kepemimpinan Keratuan Ratu Darah Putih, dilanjutkan oleh putra sulungnya bernama Khatu Batin Khatu atau Radin Imba Kesuma Ratu I.

Kemudian Radin Imba Kesuma Ratu I memiliki anak bernama Dalom Kesuma Khatu atau yang dikenal dengan sebutan Radin Inten I dan Minak Khaja Muhammad atau Pangeran Jaya singa. Radin Imba Kesuma Ratu I wafat dan dimakamkam di daerah Kelapa, Kuripan, Penengahan, Lampung Selatan. Kepemimpinan Keratuan Ratu Darah Putih, selanjutnya dipimpin oleh Dalom Kesuma Khatu (Radin Inten I).

Selanjutnya, Radin Inten I memiliki tiga orang anak yakni Radin Imba II, Khatu Indah dan Khadin Bangsa Kesuma. Setelah Radin Inten I wafat dan dimakamkan di daerah Kenali, Kuripan, Penengahan, Lampung Selatan kepemimpinan Keratuan Ratu Darah Putih  diemban atau dipimpin oleh Radin Imba II.

Radin Imba II menikah dengan Ratu Mas, putri dari Kerajaan Riau dan keduanya dianugerahi seorang anak laki-laki bernama Radin Inten II dengan Gelar Kesuma Ratu yang lahir pada Tahun 1834. Tahta kepemimpinan Keratuan Ratu Darah Putih, diemban oleh putra tunggalnya itu, yakni Radin Inten II yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional asal Lampung.

“Radin Inten II gugur sebagai pahlawan di medan perang, saat usia beliau terbilang masih muda yakni 22 tahun dan belum menikah sehingga tidak memiliki keturunan. Jasad Radin Inten II, dimakamkan di daerah Cempaka, Kuripan, Penengahan, Lampung Selatan,” tutur Budiman.

Secara administratif, ibukota pemerintahan pada zaman Keratuan Ratu Darah Putih berada di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan yang wilayahnya meliputi Desa Kuripan, Desa Kekiling, Desa negeri Pandan, Desa Taman Baru, Desa Kelaw, Desa Ruang Tengah dan Desa Teta’an dan beberapa Desa lainnya.

Sementara pusat pemerintahan Keratuan Ratu Darah Putih berada di Desa Kuripan yang disebut dengan Bandar. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, merupakan asli suku lampung sekitar 95 persen dan sisanya adalah penduduk suku lain yang merupakan pendatang.

Kemudian wilayah kekuasan Keratuan Ratu Darah Putih  di Kabupaten Lampung Selatan tersebut meliputi lima Kecamatan diantaranya adalah, Kecamatan Penengahan, Kalianda, Rajabasa, Bakauheni dan Katibung serta sebagian lagi berada di wilayah Kabupaten Lampung Timur.

Sebagaimana kepemimpinan pada kerajaan di Indonesia pada umumnya, kepemimpinan di Keratuan Ratu Darah Putih merupakan keturunan dari kepemimpinan yang memimpin sebelumnya. Dalam artian, kepemimpinan bersifat diwariskan dari orangtua kepada anaknya dengan gelar menggunakan budaya penamongan, yakni menggunakan gelar kakek.

Saat ini Keratuan Ratu Darah Putih dipimpin oleh seorang Ratu (Raja), bernama Erwin Syahrial dengan gelar Dalom Kesuma Ratu Gusti Panembahan. Erwin Syahrial atau Dalom Kesuma Khatu, merupakan anak dari Hasan Basri dengan gelar Radin Imba Kesuma Khatu IV yang merupakan keluarga terdekat dari pahlawan nasional, Radin Inten II yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda.

Demikian kilas sejarah Keratuan Ratu Darah Putih Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan dan sosok ayah dan Ibu serta kakek buyut dari Radin Inten II yang merupakan pahlawan nasional asal Lampung yang gigih berjuang menentang penjajah Belanda di tanah Lampung.

Loading...