Beranda Kolom Sepak Pojok Ngopi di Hari Pahlawan

Ngopi di Hari Pahlawan

5248
BERBAGI
Ilustrasi/Supriyanto

Oyos Saroso H.N.

Sejak zaman cindil abang alias jaman kuna makuna alias zaman dahulu kala sekali Ki Sudrun hobi minum kopi. Ngopi bagi Ki Sudrun adalah hobi yang diwariskan sejak ada orang menanam kopi di Lampung dan kopi Lampung jadi primadona.

Hobi ngopi juga diwariskan Ki Sudrun kepada para cucunya. Makanya, kalau ada penghargaan Pahlawan Kopi, Ki Sudrun layak masuk jadi nomine. Syukur-syukur kalau dia langsung ditabalkan sebagai Pahlawan Kopi Lampung. Alasan dan rekam jejaknya jelas: Ki Sudrun sudah ngopi secara mandiri selama 60 tahun lebih secara berturut-turut, tidak pernah putus. Bahkan, ketika Ki Sudrun sakit dan tergolek di ranjang rumah sakit pun ia memaksa untuk minum kopi.

Kedua, Ki Sudrun menularkan hobi minum kopi kepada 10 anaknya, 56 cucunya, 10 cicitnya, 17.288 kenalannya, 4.321 tetangganya.

Ketiga, Ki Sudrun sudah puluhan tahun menjadi pemulia kopi sekaligus pelanggan setia kopi hasil petikan langsung para petani kopi di Lampung.

Sayangnya, untuk mendapatkan penghargaan mewah dan terhormat itu Ki Sudrun tidak punya modal. Ia bukan gubernur. Ia juga bukan bupati atau walikota. Ki  Sudrun juga bukan pemilik hotel atau pengelola tempat wisata mewah. Kalau Ki Sudrun menjadi kepala daerah atau setidaknya memiliki kekuasaan kapital semisal jadi pemilik tempat pakansi, tentulah amat mudah bagi Ki Sudrun untuk mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Kopi.

Ki Sudrun sendiri sebenarnya tidak butuh penghargaan ini-itu. Namun, ketika membaca berita tentang lomba mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), tiba-tiba Mang Sudrun kepikiran juga. Apalagi hari ini pas peringatan Hari Pahlawan. Bayangkan: pas Hari Pahlawan ada dua “prestasi besar” icak-icaknya ditorehkan pemimpin Lampung. Pertama, rekor MURI untuk kegiatan 3.000 wanita minum kopi bareng yang difasilitasi Pemprov Lampung. Kedua, rekor MURI untuk 25 ribu Pramuka Menari yang difasiltasi Kwarcab Bandarlampung dan Pemkot Bandarlampung.

Rekor MURI akan membuat pemimpin Lampung makin harum namanya. Setidaknya harum di hidung para pendukung dan penikmat kekuasaannya.

Bagaimana dengan para petani kopi dan penikmat kopi? Tetap payah. Mereka masih banyak yang termehek-mehek dengan nasibnya yang tak kunjung berubah. Banyak di antara para petani kopi justru melupakan kebun kopi dan menggantinya dengan tanaman lain atau mengubah kebun kopi menjadi kolam ikan.

“Puluhan tahun menjadi petani kopi saya selalu ditindas harga pasar dan tengkulak. Ekonomi saya justru berubah membaik setelah menjadi peternak ikan nila,” kata Mang Kosim, mantan petani kopi dari Lampung Barat.

Mang Kosim bisa mengganti profesi dari pekebun kopi menjadi peternak iklan nila karena ia punya modal. Yang tidak modal seperti Bu Surati — juga warga Lampung Barat — harus tetap menekuni profesi sebagai petani kopi meskipun nasibnya tidak sebaik pemilik kafe yang menjual kopi petik merah dari kebunnya.

Ada banyak perempuan pekebun dan pemulia kopi di Lampung Barat dan Tanggamus yang sampai hari ini badannya tidak bisa sewangi 3.000 wanita di Bandarlampung peminum yang memecahkan rekor MURI. Seperti Ki Sudrun, mereka mencintai kopi seperti mencintai nasib baik dan nasib buruk yang datang silih berganti.

Di Hari Pahlawan, Ki Sudrun dan dan para petani kopi di Lampung ngopi seperti biasa. Untuk menjadi orang yang setia dengan kopi dan berjuang untuk kopi, mereka tidak butuh penghargaan.

Yang dipikirkan Ki Sudrun hari ini sebenarnya bukan penghargaan sebagai pahlawan atau dapat “Mura-Muri”. Ia sedang berpikir keras mengapa hari ini tidak ada yang ribut ketika dua hari lalu nama tokoh Lampung, Mr. Gele Harun dan K.H. Akhmad Hanafiah, tidak masuk dalam daftar tokoh yang mendapatkan penghargaan dari pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. Padahal, sejak 2015 lalu dua pahlawan Lampung diusulkan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Sampai ocehan ini ditulis, tidak terdengar ada kepala daerah atau tokoh di Lampung yang menyinggung soal kepahlawanan Mr. Gele Harun dan K.H.Akhmad Hanafiah. Sepi. Senyap. Seperti sore warna jingga berubah kelabu bagi mata Ki Sudrun yang sudah makin menua…

Loading...